Selasa, 07 April 2009

INTISARI


 

Pengaruh Aloe Vera Terhadap Sel Mononuklear

Pada Reaksi Hipersensitivitas Kontak


 

Oleh :

ADISTY RESTU POETRI

06/193743/KG/08043

Sistem imun merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh guna mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Hipersensitivitas tipe lambat merupakan manifestasi imunitas seluler.

Lidah buaya (aloe
vera) adalah salah satu dari sekian banyak flora tumbuhan di bumi Indonesia. Praktikum dilaksanakan dengan tujuan supaya mahasiswa mampu mengamati perubahan sel mononuklear pada reaksi hipersensitivitas kontak.

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah sel mononuklear (berinti satu, inti terletak di tengah berwarna merah keunguan, serta dikelilingi sitoplasma tipis) pada masing-masing preparat dengan 5 lapang pandang. Kemudian dilakukan analisis hasil data jumlah sel mononuklear sesuai data yang telah diperoleh.

Setelah dilakukan praktikum diperoleh suatu hasil bahwa konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap peningkatan jumlah sel mononuklear.


 

Kata kunci: Hipersensitivitas tipe lambat, aloe vera, sistem imun, sel mononuklear


 

 

PENDAHULUAN

Sistem imun merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh guna mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja, 2002). Reaksi imun terhadap gabungan-gabungan molekul dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. Sebagai contoh adalah obat, dapat menimbulkan penyakit pada kulit, hati ginjal dan paru-paru (Werner and Pitchler,2003).

Bila seseorang telah mendapat suntikan atau telah kebal, kontak dengan antigen yang selanjutnya tidak hanya dapat merangsang timbulnya peningkatan reaksi kekebalan tetapi dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas (Roitt, 1985). Reaksi hipersensitivitas merupakan reaksi imunologik yang merusak jaringan (Lawler, dkk, 1992). Menurut Lennei (1995), ada empat tipe reaksi hipersensitivitas.

  1. Tipe I atau Hipersensitivitas Anafilaktik

    Antigen menyebabkan degranulasi sel mastosit yang berikatan dengan IgE dan mengeluarkan histamine dan bahan vasoaktif lainnya.

  2. Tipe II atau Hipersensitivitas Bergantung Kepada Antibodi

    Menurut Roitt (1985), pengikatan antibodi terhadap antigen di permukaan sel menyebabkan (i) fagositosis sel dengan cara perlekatan opsonik atau perlekatan imun, (ii) sitotoksisitas ekstraseluler yang tidak fagositik oleh sel-sel pembunuh dan yang mempunyai reseptor-reseptor untuk IgFc, (iii) lisis melalui sistem komplemen lengkap sampai C8.

  3. Tipe III atau Hipersensitivitas Imun Kompleks

    Adanya antigen plak dan antibodi menunjukkan bahwa kompleks imun (IC) mungkin terbentuk. Aktivasi komplemen dapat menyebabkan resorpsi tulang. Baik jalur klasik maupun alternatif juga terlibat.

  4. Tipe IV atau Hipersensitivitas Selular

    Pengaktifan imunitas selular oleh antigen plak yang merangsang proliferasi sel-T dan sel-B menyebabkan perluasan sel-sel yang terlibat dalam reaksi hipersensitivitas lambat. Menurut Roitt (1985), hipersensitivitas tipe lambat ini ditemukan pada berbagai reaksi alergi terhadap bakteri, virus, dan jamur. Biasanya pada dermatitis kontak karena kepekaan terhadap zat-zat kimia sederhana tertentu dan pada penolakan transplantasi jaringan.

Menurut Sherwood (2001), respon alergi diklsasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu hipersensitiyitas tipe cepat (Immediate hypersensitivity) dan hipersensitivitas tipe lambat (delayed hypersensitivity). Pada hipersensitivitas tipe cepat, respon muncul sekitar dua puluh menit setelah terkena alergen, sedangkan hipersensitivitas tipe lambat biasanya muncul satu hari atau lebih setelah terpapar. Adanya perbedaan waktu disebabkan perbedaan mediator yang terlibat. Jika reaksi hipersensitivitas tipe cepat melibatkan sel B, reaksi hipersensitivitas tipe lambat melibatkan sel T.

Bellanti (1993) memaparkan bahwa hipersensitivitas tipe lambat merupakan manifestasi imunitas seluler. Diakibatkan kenaikan reaktivitas terhadap antigen spesifik yang ditengahi oleh sel T.

Lidah buaya (aloe
vera) adalah salah satu dari sekian banyak flora tumbuhan di bumi Indonesia. Kandungan kimia yang ada antara lain lemak tak jenuh, chrysophanol, asam amino, tannin, polisakarida. Efek biologi secara lokal ekstrak daun lidah buaya dapat sebagai anestetika, pembunuh mikroba, penyembuh luka pada kulit, dan di dunia industri digunakan bahan pembuat shampo (Ismiyati, dkk, 2007). Daun lidah buaya memiliki 2 cairan utama, yaitu eksudat yang kekuningan berasal dari sel perisiklik, unsur utama adalah antrakuinon yang disungak sebagai obat pencahar dan gel yang jernih di dalam daun terdiri dari sel parenkim, memiliki banyak fungsi baik fisiologi, farmakologi dan efek klinik (Eberendu etc, 2005).

Pemaparan aloe
vera yang berlebihan atau adanya penurunan reaksi imunologi seluler pada kondisi tertentu, mengakibatkan zat yang terkandung di dalamnya dapat berubah menjadi alergen. Reaksi hipersensitivitas yang tertunda menyebabkan eritema dan indurasi yang tampak beberapa jam dan mencapai keadaan maksimal setelah 24-48 jam (Barber, 1977).

Praktikum dilaksanakan dengan tujuan supaya mahasiswa mampu mengamati perubahan sel mononuklear pada reaksi hipersensitivitas kontak.

BAHAN DAN CARA

Peralatan yang digunakan saat praktikum adalah sebuah mikroskop cahaya dan 4 preparat, yaitu kontrol, aloe vera 25%, aloe vera 50%, dan aloe vera 100%.

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah sel mononuklear (berinti satu, inti terletak di tengah berwarna merah keunguan, serta dikelilingi sitoplasma tipis) pada masing-masing preparat dengan 5 lapang pandang. Kemudian dilakukan analisis hasil data jumlah sel mononuklear sesuai data yang telah diperoleh.

HASIL PENGAMATAN


 


 

Gambar 1 - Sel mononuklear pada preparat control terletak di sekitar pembuluh darah.


 

Tabel 1 – Jumlah dan rata-rata sel mononuklear yang tampak pada setiap preparat.

Preparat 

Jumlah 

Rata-rata 

Kontrol 

25 

1,6 

Aloe vera 25%

71 

4,73 

Aloe vera 50%

79 

5,26 

Aloe vera 100%

109 

7,2 

PEMBAHASAN

Dermatitis kontak alergi adalah inflamasi kulit yang termasuk dalam hipersensitivitas tipe lambat, disebabkan adanya kontak benda asing dengan kulit dan merupakan penyebab penting penyakit kulit. Diagnosis dari dermatitis kontak alergi tergantung pada riwayat medis, distribusi lesi, dan patch testing (Chapel, 1988). Menurut Trihapsoro (2003), dermatitis kontak alegri tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi, tetapi lebih jarang dijumpai pada anak-anak. Selain itu, prevalensi pada wanita dua kali lipat dibanding laki-laki.

Mekanisme timbulnya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi mengikuti respons imun pada reaksi hipersensitivitas tipe lambat (Djuanda, 2005). Hipersensitivitas lambat adalah satu-satunya reaksi imunologik yang dibangkitkan oleh sensitisasi. Hipersensitivitas tipe lambat tidak dapat dipindahkan dari orang yang peka ke orang yang tidak peka melalui antibodi serum. Sel T bersifat antigen sensitif memperlihatkan kekhususan antigen dalam reaksinya terhadap carrier. Sel T mempunyai reseptor-reseptor permukaan yang mengenal antigen (Roitt, 1985).

Dalam fase sensitisasi, hapten yang kontak dengan kulit diikat oleh auto-protein, dan dimakan sel Langerhans, diproses dan dipresentasikan ke sel T yang kemudian berproliferasi membentuk lon Th1 yang spesifik untuk kompleks hapten-protein. Sehingga bila terjadi kontak ulang dengan hapten, peptide asal autoprotein dipresentasikan lagi oleh sel Langerhans. Sel T memori akan memberi respons terhadap antigen tersebut dengan melepas sitokin (IFN-γ) yang menarik Th1 dan monosit ke tempat kontak serta meningkatkan ekspresi molekul adhesi pada sel endotel dan menimbulkan inflamasi (Baratawidjaja, 2002). Oleh karena itu, dermatitis kontak alergi dapat terjadi pada orang-orang yang menjadi peka akibat pekerjaan yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia (Roitt, 1985).

Dalam praktikum kali ini yang berperan sebagai antigen adalah aloe vera. Pada daun aloe vera, terkandung di dalamnya antrakuinon, suatu zat yang memiliki potensi menimbulkan iritasi dan alergi (Ferreira et al, 2007). Oleh karena itu jika terlalu sering berkontak dengan aloe vera dapat terjadi dermatitis kontak alergi. Walaupun begitu, secara umum efek samping yang ditimbulkan akibat kontak yang terus menerus dengan aloe vera masih dapat diterima (Vogler and Ernst, 1999). Hasil pengamatan menunjukkan semakin tinggi konsentrasi aloe vera yang digunakan maka sel mononuklear yang tampak juga semakin banyak. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap perubahan jumlah sel mononuklear.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu:

  1. Rata-rata sel mononuklear yang tampak pada setiap preparat:
    1. Kontrol        :     1,6
    2. Aloe vera 26%        : 4, 73
    3. Aloe vera 50%        : 5, 26
    4. Aloe vera 100%    : 7,2
  2. Semakin tinggi konsentrasi aloe vera yang diberikan maka jumlah sel mononuklear semakin meningkat.
  3. Konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap perubahan jumlah sel mononuklear yang muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, K.G. 2002. Imunologi Dasar. edisi 5. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Barber, H.R.K. 1977. Immunolgy for The Clinican. A Wiley MedicalPublications: New York.

Bellanti. J.A. 1993. Imunologi III. Gajah Mada University Press: Yogyakarta

Chapel, H., Haeney, M., 1988, Essentials of Clinical Immunology, 2nd edition, Blackwell Scientific Publications, England; 256-259.

Djuanda, A. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. edisi 3. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Eberendu, A.R., Luta, G., Edwards. J.A., McAnalley, B.H., Davis, B., Henry, S., Ray, R.C., 2005, Quantitative Colorimetric Analysis of Aloe Polysaccarides as a Measure of Aloe Vera Quality In Commercial Products, Journal of AOAC International

Ferreira, M., Teixeira, M., Silva, E., Selones, M., 2007, Allergic Contact Dermatitis to Aloe Vera, Contact Dermatitis, Vol. 57: 278-279

Ismiyati, T., Dipoyono, H.M., Indrastuti, M., 2007, Kemampuan Cetak Ekstrak Daun Lidah Buaya Sebagai Bahan Cetak Pada Pembuatan Gigi Tiruan, Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 14 (2): 88

Lawler, W., Ahmed, A., Hume, W.J., 199222, Buku Pintar Patologi Untuk Kedokteran Gigi. EGC: Jakarta

Lenner, T. 1995. Imunologi pada Penyakit Mulut. EGC: Jakarta

Roitt, I.M. 1985. Pokok-Pokok Ilmu Kedokteran. Gramedia: Jakarta

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia . RGC: Jakarta

Trihapsoro, I. 2003. Dermatitis Kontak Alergi pada Pasien Rawat Jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan. USU Digital Library

Vogler, B.K., Ernst, E., 1999, Aloe Vera: A Systematic Review of Its Clinical Effectiveness, British Journal of General Practice, Vol. 49: 823-828

Werner, J., Pichler, M.d., 2003, Delayed drug Hipersensitivity Reactions, Annals of Internal Medicine, Vol. 139 (8): 683-693


  

   

 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

INTISARI


 

PERALATAN LABORATORIUM


 

Oleh:

ADISTY RESTU POETRI

06/193743/KG/08043


 

Dalam suatu laboratorium banyak terdapat berbagai macam peralatan yang mana memiliki fungi serta prinsip yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu agar dapat melakukan praktikum dengan baik, maka setiap mahasiswa diharapkan dapat mengetahui serta memahami fungsi dan peralatan yang terdapat di laboratorium.

Metode yang digunakan agar dapat memenuhi tujuan tersebut adalah dengan mencari informasi-informasi tentang peralatan dari internet baik berdasarkan artikel ataupun jurnal. Selain itu berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh dosen di depan kelas.

Setelah melakukan observasi diketahui dalam laboratorium terdapat beberapa peralatan antara lain yaitu mikroskop, sentrifugator, inkubator, sterilisator sebagai alat utama serta micro pipe, micro tube, piring petri sebagai alat pendukung.


 

Kata kunci: mikroskop, sentrifugator, incubator


 

PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka dalam dunia kedokteran, peralatan yang ada juga mengalami perkembangan. Awalnya mungkin hanya satu peralatan di laboratorium yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian. Rasa ingin tahu sangat tinggi pada manusia akan berbagai hal di muka bumi ini menyebabkan satu buah peralatan sederhana mulai berkembang menjadi peralatan yang lebih canggih dan kemudian dari satu buah peralatan tersebut muncul pula peralatan lain dengan fungsi serta peranan yang berbeda-beda.

Berkembangnya peralatan-peralatan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu bentuk perwujudan dari rasa ingin tahu dalam diri manusia yang tinggi. Bahkan peralatan yang hanya memiliki satu buah fungsi tidak menutup kemungkinan berubah menjadi multifungsi.

Mahasiswa kedokteran gigi dalam kegiatannya sangat terkait dengan peralatan laboratorium. Sehingga diharapkan dapat berperan serta dalam perkembangan jaman yang tentunya berpengaruh terhadap perkembangan teknologi. Oleh karena itu, agar dapat melakukan praktikum ataupun penelitian dengan baik dan benar, maka mahasiswa harus mengetahui dan memahami fungsi serta prinsip dari masing-masing peralatan yang ada di dalam laboratorium.

BAHAN DAN CARA

  1. Bahan
  2. LCD dan proyektor
  3. Laptop
  4. Cara
  5. Mendengarkan penjelasan dosen mengenai peralatan laboratorium yang ditampilkan pada slide.
  6. Mencari informasi serta gambar ataupun foto seputar peralatan laboratorium melalui internet dan buku.

PEMBAHASAN

  1. Mikrsokop Cahaya

Mikroskop cahaya memiliki perbesaran 1000 kali. Mikroskop ini memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, okuler, dan kondensor.

Lensa obyektif berfungsi untuk membentuk bayangan pertama dan lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif sebesar 4 sampai 25 kali. Sedangkan lensa kondensor berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan dilihat sehingga dengan peraturan yang tepat akan diperoleh daya pisah maksimal (Mikroskop wikipedia 10/09/2008).

  1. Mikroskop Fluoresens

Mikroskop fluoresens mengambil keuntungan dari sifat fluoresens, suatu kemampuan untuk menyerap gelombang cahaya yang pendek (UV) dan memancarkan gelombang cahaya panjana (terlihat). Beberapa organism secara natural berfluoresens di bawah sinar UV. Jika specimen tidak memperlihatkan sifat tersebut saat di sinari dengan ultraviolet, maka specimen diberi warna menggunakn Fluorochrome. Prinsip mikroskop fluoresens adalah teknik diagnose yang disebut fluorescent-antibody (FA) techniqueatau immunofluoresence (Tortora, 2001 ).

  1. Mikroskop Fase Kontras

Cara ideal dalam meneliti ataupun mengamati makhluk hidup adalah dalam keadaan alamiahnya, yaitu tidak diberi warna. Namun pada kenyataannya makhluk hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) sifatnya tembus cahaya akibatnya bagian yang ingin dilihat justru menjadi sukar untuk diamati. Kesulitan ini akhirnya dapat diatasi dengan menggunakan mikroskop fase kontras (http://one.indoskripsi.com/content/mikroskop).

  1. Mikroskop Elektron

Mikroskop Elekron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali, elektron digunakan sebagai pengganti cahaya.

Sumber lain menyatakan bahawa mikroskop elektron mampu melakukan perbesaran obyek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran obyek dan resolusi yang jauh lebih bagus dibandingkan mikroskop cahaya (Mikroskop electron wapedia 10/09/2008).

Mikroskop elektron mempunyai dua tipe, yaitu mikroskop elektron scanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM).

  1. Transmission Electron Microscope (TEM)

    Mikroskop ini bekerja seperti layaknya sebuah slide proyektor, di mana obyek yang akan diamati ditembus oleh elektron dan pengamat dapat mengamati hasil tembusannya lewat layar. Pada resolusi yang tingi pengamat bahkan dapat melihat struktur kristal. Namun sampai sekarang pengembangan akan mikroskop electron jenis ini masih terus dilakukan sebab peneliti kerap kali merasa tidak puas terhadap syarat "agar obyek pengamatan setipis mungkin" terutama bagi peneliti yang obyek pengamatannya tidak dapat dipertipis begitu saja (http://zkarnain.tripod.com/IPTEK-01.HTM).

  2. Scanning Electron Microscope (SEM)

    Mikroskop ini memfokuskan sinar elektron pada permukaan obyek kemudian mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul di permukaan obyek. Sinar electron tersebut nantinya akan digerakkan oleh coil pembelok sinar ke seluruh permukaan obyek yang diamati. Kelemahan mikroskop ini adalah electron yang diamati bukan dari sinar electron yang dipancarkan namun electron dari dalam obyek itu sendiri. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya penumpukan electron maka obyek yang diamati harus bersifat kondusif supaya electron dapat mengalir. Sedangkan untuk obyek yang tidak kondusif dapat diatasi dengan melapisi permukaan obyek tersebut menggunakan emas, karbon atau platina setipis mungkin. Namun seperti halnya TEM, SEM ini juga tidak memuaskan peneliti terutama bagi mereka yang obyek penelitian tidak dapat dipertipis dan tidak kondusif. Sebab peneliti tersebut ingin mengamati obyek apa adanya (http://zkarnain.tripod.com/IPTEK-01.HTM).

  3. Scanning Probe Microscope

Mikroskop ini digunakan untuk mengamati gambaran permukaan obyek dengan menggunakan probe yang sangat sensitif, dan digerakkan pada permukaan obyek.

  1. Scanning Tunneling Microscope

    Merupakan salah satu jenis mikroskop elektron yang mampu menunjukkan obyek dalam bentuk gambar tiga dimensi. Agar hasil obyek pengamatan dapat ditampilkan secara maksimal maka probe harus diposisikan sedekat mungkin dengan obyek. Elektron tunnel antara permukaan obyek dengan ujung probe akan membentuk suatu sinyal elektrik. Ujung probe digerakkan di permukaan obyek namun hanya sejauh diameter atom saja. Ujung probe digerakkan naik-turun untuk menjaga sinyal elektron tetap konstan dan menjaga jarak antara permukaan obyek dengan ujung probe. Hal ini memungkinkan ujung probe untuk mengamati obyek hingga hal yang paling detail (Nobelprize.org 10/09/2008). Saat ini, scanning tunneling microscope digunakan untuk mengamati DNA secara langsung.

  2. Atomic Force Microscope

Atomic force microscope mampu menampilkan gambar dimana ukurannya lebih kecil dari 20ms. Mikroskop ini juga memungkinkan menampilkan gambar yang dari kristal yang lunak dan permukaan polimer (A. D. L. Humphris, M. J. Miles, and J. K. Hobbsb,2005).

Atomic force microscope memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan scanning electron microscope. Tidak seperti mikroskop elektron yang menghasilkan gambar dua dimensi dari sampel, atomic force microscope memberikan gambaran sampel berupa tiga dimensi. Selain itu sampel yang akan dilihat menggunakan atomic force microscope tidak memerlukan perlakuan khusus, seperti melapisi dengan karbon, dll yang dapat menimbulkan perubahan ireversibel ataupun kerusakan pada sampel. Atomic force microscope dapat bekerja sebaik mungkin dalam kondisi lingkungan seperti apapun. Hal tersebut memungkinkan utnuk melakukan studi biologi dan mengamati kehidupan suatu organisme. Secara prinsip atomic force microscope menyediakan resolusi yang lebih tinggi disbanding scanning electron microscope. Sedangkan kelemahan atomic force microscope dibanding dengan scanning electron microscope ada pada ukuran gambar. Scanning electron microscope dapat menangkap gambar dengan unit mm x mm dengan lapang pandang dalam mm. Sedangkan atomic force microscope hanya dapat menangkap gambar dengan ketinggian maksimum dalam unit micrometer dan luas maksimum pengamatan 150 x 150 micrometer. Mungkin yang dimaksud dalam hal ini yaitu kemampuan atomic force microscope yang hanya menampilkan gambar yang ukurannya sangat kecil. Sehingga jika ukurannya cukup besar, atomic force microscope tidak dapat menampilkan
(Atomic force microscope wikipedia 10/09/2008).

  1. Mikroskop Konvokal

Dalam menghasilkan gambar yang tajam dua atau tiga dimensi dengan menggunakan cahaya, mikroskop konvokal tak tertandingi. Selain itu, mikroskop konvokal ini dapat juga digunakn untuk melihat apa yang terdapat di dalam jaringan hidup specimen (Lichtman, 1998)

  1. Polymerized Chain Reaction (PCR)

PCR merupakan suatu alat yang dapat memproduksi copy DNA dalam jumlah yang sangat besar hanya dalam waktu singkat (Wistreich,1984). Copy DNA menggunakan PCR terjadi melalui tiga tahap, yaitu denaturasi, annealing, dan ekstension. Beberapa aplikasi PCR diantaranya ialah untuk mendeteksi gen yang cacat, diagnosis dini penyakit HIV,serta untuk memecahkan kasus kriminal (Clave et al.,1999).

  1. Inkubator

Masa inkubasi dengan temperatul yang terkontrol sangat dibutuhkan dalam kultur bakteri, transfuse darah, serologi, hematologu, tes kimia.

Untuk kultur bakteri yang dilakukan secara rutin di sebagian besar laboratorium, incubator dengan kapasitas yang kecil dengan thermostat hidrolic sudah cukup. Jika dibutuhkan inkubator dengan kapasitas yang besar, sebaiknya menggunakan incubator di mana untuk sirkulasi udara memakai kipas angin (Cheesbrough, 1987).

  1. Sentrifugator

Sampai saat ini kekuatan sentrifugal diperlukan untuk mengendapkan partikel dalam suatu cairan yang akan diteliti dengan menggunakan kecepatan putaran dalam rpm. Sedimentasi atau hasil endapan yang tepat sangat bergantung dari kecepatan putaran yang duberikan (Cheesbrough, 1987 ).

Sentrifugator dibedakan menjadi 4 macam berdasarkan kecepatan putarannya, antara lain clinical centrifuges (3000 rpm), microfuges (14.000 rpm), high speed centrifuges (25.000 rpm), dan ultracentrifuges (75.000 rpm) (Wallman, 1999).

  1. Laminar Hood

Laminar hood dibuat untuk melindungi pekerjaan laboratorium dari lingkungan sekitar. Pada laminar hood, dialirkan secara langsung ke sekitar daerah kerja aliran udara steril yang telah mengalami proses filtrasi. Laminar hood mempunyai peranan dalam mencegah kontaminasi saat menuang agar biakan ke dalam piring petri (Collins dan Lyne,1976).

  1. pH meter

Sebagian besar pH meter menggunakan kombinasi pH electrode yang mana sebuah electrode di dalam gelas pengukur akan dikombinasikan menjadi satu kesatuan unit bersama reference calomel electrode. Perbedaan potensial yang terukur dihubungkan ke pH value, dengan mengukur perbedaan potensial pada buffer, pH dapat diketahui secara tepat (Cheesbrough, 1987).

KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu:

  1. Dalam laboratorium terdapat berbagai macam alat, di mana terdapat 2 kategori yaitu alat utama dan alat pendukung.
  2. Alat utama yang ada di dalam laboratorium antara lain adalah mikroskop, sterilisator, incubator dan sntrifugator.
  3. Alat pendukung di dalam laboratorium yaitu micro pipe, micro tube, micro tip, micro plate, piring petri, water bath, PCR, pH meter, ELISA reader, spektrofotometer, dll.

DAFTAR PUSTAKA

Binning, G., Rohrer, H., 1986, The Scanning Tunneling Microscope, http://www.nobelprize.org/educational_games/physics/microscopes


 

Cheesbrough, Monica. 1987. Medical Laboratory for Tropical Countries. 2nd ed. ELBS


 

Clave E, Molldrem J, Raptis A, Barrett AJ.Donor Recipient Polymorphism of The

    Proteinase 3 Gene : A Potential Target for T-Cell Alloresponses to Myeloid

    Leukemia. Journal of Immunotherapy. 1999; 22(1):1-6


 

Collins, C.H., Lyne, Patricia M. Microbiological Methods. 4th ed. London: Butterworths

    &Co. 1976.


 

Humphris, A.D.L., Miles, M.J., Hobbsb, J.K., A mechanical microscope: High-speed atomic force microscopy, American Institute of Physics, United Kingdom


 

Lichtman, J.W. 1998. Confocal Microscopy. Scientific American. New York.


 

Tortora, Gerard J., Funke., Berdel R and Cae. Christine L., 2001, Microbiology an Introduction,7th ed, Benjamin Cumming, USA


 

Wallman, Sonia, 2005, Centrifugation, http://biotech.nhctc.edu/BT210/tutorial2.html


 

Wapedia Encyclopedia, Mikroskop Elektron, http://orlingo.com/sites/wapedia.mobi/id/Mikroskop_elektron


 

Waskitoaji, Wihatmoko, 2000, Melihat Dunia Mikro Dengan Mikroskop Elektron, http://zkarnain.tripod.com/IPTEK-01.HTM.


 

Wikipedia Encyclopedia, Atomic Force Microscope, http//en.wikipedia.org/wiki/Atomic Force Microscope.


 

Wikipedia Encyclopedia, Microscope, http//en.wikipedia.org/wiki/Microscope.


 

Wilstreich, G.A. Microbiology Laboratory Fundamentals and Applications. New Jersey:

    Prentice Hall. 1984.