Selasa, 07 April 2009

INTISARI


 

Pengaruh Aloe Vera Terhadap Sel Mononuklear

Pada Reaksi Hipersensitivitas Kontak


 

Oleh :

ADISTY RESTU POETRI

06/193743/KG/08043

Sistem imun merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh guna mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Hipersensitivitas tipe lambat merupakan manifestasi imunitas seluler.

Lidah buaya (aloe
vera) adalah salah satu dari sekian banyak flora tumbuhan di bumi Indonesia. Praktikum dilaksanakan dengan tujuan supaya mahasiswa mampu mengamati perubahan sel mononuklear pada reaksi hipersensitivitas kontak.

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah sel mononuklear (berinti satu, inti terletak di tengah berwarna merah keunguan, serta dikelilingi sitoplasma tipis) pada masing-masing preparat dengan 5 lapang pandang. Kemudian dilakukan analisis hasil data jumlah sel mononuklear sesuai data yang telah diperoleh.

Setelah dilakukan praktikum diperoleh suatu hasil bahwa konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap peningkatan jumlah sel mononuklear.


 

Kata kunci: Hipersensitivitas tipe lambat, aloe vera, sistem imun, sel mononuklear


 

 

PENDAHULUAN

Sistem imun merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh guna mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja, 2002). Reaksi imun terhadap gabungan-gabungan molekul dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. Sebagai contoh adalah obat, dapat menimbulkan penyakit pada kulit, hati ginjal dan paru-paru (Werner and Pitchler,2003).

Bila seseorang telah mendapat suntikan atau telah kebal, kontak dengan antigen yang selanjutnya tidak hanya dapat merangsang timbulnya peningkatan reaksi kekebalan tetapi dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas (Roitt, 1985). Reaksi hipersensitivitas merupakan reaksi imunologik yang merusak jaringan (Lawler, dkk, 1992). Menurut Lennei (1995), ada empat tipe reaksi hipersensitivitas.

  1. Tipe I atau Hipersensitivitas Anafilaktik

    Antigen menyebabkan degranulasi sel mastosit yang berikatan dengan IgE dan mengeluarkan histamine dan bahan vasoaktif lainnya.

  2. Tipe II atau Hipersensitivitas Bergantung Kepada Antibodi

    Menurut Roitt (1985), pengikatan antibodi terhadap antigen di permukaan sel menyebabkan (i) fagositosis sel dengan cara perlekatan opsonik atau perlekatan imun, (ii) sitotoksisitas ekstraseluler yang tidak fagositik oleh sel-sel pembunuh dan yang mempunyai reseptor-reseptor untuk IgFc, (iii) lisis melalui sistem komplemen lengkap sampai C8.

  3. Tipe III atau Hipersensitivitas Imun Kompleks

    Adanya antigen plak dan antibodi menunjukkan bahwa kompleks imun (IC) mungkin terbentuk. Aktivasi komplemen dapat menyebabkan resorpsi tulang. Baik jalur klasik maupun alternatif juga terlibat.

  4. Tipe IV atau Hipersensitivitas Selular

    Pengaktifan imunitas selular oleh antigen plak yang merangsang proliferasi sel-T dan sel-B menyebabkan perluasan sel-sel yang terlibat dalam reaksi hipersensitivitas lambat. Menurut Roitt (1985), hipersensitivitas tipe lambat ini ditemukan pada berbagai reaksi alergi terhadap bakteri, virus, dan jamur. Biasanya pada dermatitis kontak karena kepekaan terhadap zat-zat kimia sederhana tertentu dan pada penolakan transplantasi jaringan.

Menurut Sherwood (2001), respon alergi diklsasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu hipersensitiyitas tipe cepat (Immediate hypersensitivity) dan hipersensitivitas tipe lambat (delayed hypersensitivity). Pada hipersensitivitas tipe cepat, respon muncul sekitar dua puluh menit setelah terkena alergen, sedangkan hipersensitivitas tipe lambat biasanya muncul satu hari atau lebih setelah terpapar. Adanya perbedaan waktu disebabkan perbedaan mediator yang terlibat. Jika reaksi hipersensitivitas tipe cepat melibatkan sel B, reaksi hipersensitivitas tipe lambat melibatkan sel T.

Bellanti (1993) memaparkan bahwa hipersensitivitas tipe lambat merupakan manifestasi imunitas seluler. Diakibatkan kenaikan reaktivitas terhadap antigen spesifik yang ditengahi oleh sel T.

Lidah buaya (aloe
vera) adalah salah satu dari sekian banyak flora tumbuhan di bumi Indonesia. Kandungan kimia yang ada antara lain lemak tak jenuh, chrysophanol, asam amino, tannin, polisakarida. Efek biologi secara lokal ekstrak daun lidah buaya dapat sebagai anestetika, pembunuh mikroba, penyembuh luka pada kulit, dan di dunia industri digunakan bahan pembuat shampo (Ismiyati, dkk, 2007). Daun lidah buaya memiliki 2 cairan utama, yaitu eksudat yang kekuningan berasal dari sel perisiklik, unsur utama adalah antrakuinon yang disungak sebagai obat pencahar dan gel yang jernih di dalam daun terdiri dari sel parenkim, memiliki banyak fungsi baik fisiologi, farmakologi dan efek klinik (Eberendu etc, 2005).

Pemaparan aloe
vera yang berlebihan atau adanya penurunan reaksi imunologi seluler pada kondisi tertentu, mengakibatkan zat yang terkandung di dalamnya dapat berubah menjadi alergen. Reaksi hipersensitivitas yang tertunda menyebabkan eritema dan indurasi yang tampak beberapa jam dan mencapai keadaan maksimal setelah 24-48 jam (Barber, 1977).

Praktikum dilaksanakan dengan tujuan supaya mahasiswa mampu mengamati perubahan sel mononuklear pada reaksi hipersensitivitas kontak.

BAHAN DAN CARA

Peralatan yang digunakan saat praktikum adalah sebuah mikroskop cahaya dan 4 preparat, yaitu kontrol, aloe vera 25%, aloe vera 50%, dan aloe vera 100%.

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah sel mononuklear (berinti satu, inti terletak di tengah berwarna merah keunguan, serta dikelilingi sitoplasma tipis) pada masing-masing preparat dengan 5 lapang pandang. Kemudian dilakukan analisis hasil data jumlah sel mononuklear sesuai data yang telah diperoleh.

HASIL PENGAMATAN


 


 

Gambar 1 - Sel mononuklear pada preparat control terletak di sekitar pembuluh darah.


 

Tabel 1 – Jumlah dan rata-rata sel mononuklear yang tampak pada setiap preparat.

Preparat 

Jumlah 

Rata-rata 

Kontrol 

25 

1,6 

Aloe vera 25%

71 

4,73 

Aloe vera 50%

79 

5,26 

Aloe vera 100%

109 

7,2 

PEMBAHASAN

Dermatitis kontak alergi adalah inflamasi kulit yang termasuk dalam hipersensitivitas tipe lambat, disebabkan adanya kontak benda asing dengan kulit dan merupakan penyebab penting penyakit kulit. Diagnosis dari dermatitis kontak alergi tergantung pada riwayat medis, distribusi lesi, dan patch testing (Chapel, 1988). Menurut Trihapsoro (2003), dermatitis kontak alegri tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi, tetapi lebih jarang dijumpai pada anak-anak. Selain itu, prevalensi pada wanita dua kali lipat dibanding laki-laki.

Mekanisme timbulnya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi mengikuti respons imun pada reaksi hipersensitivitas tipe lambat (Djuanda, 2005). Hipersensitivitas lambat adalah satu-satunya reaksi imunologik yang dibangkitkan oleh sensitisasi. Hipersensitivitas tipe lambat tidak dapat dipindahkan dari orang yang peka ke orang yang tidak peka melalui antibodi serum. Sel T bersifat antigen sensitif memperlihatkan kekhususan antigen dalam reaksinya terhadap carrier. Sel T mempunyai reseptor-reseptor permukaan yang mengenal antigen (Roitt, 1985).

Dalam fase sensitisasi, hapten yang kontak dengan kulit diikat oleh auto-protein, dan dimakan sel Langerhans, diproses dan dipresentasikan ke sel T yang kemudian berproliferasi membentuk lon Th1 yang spesifik untuk kompleks hapten-protein. Sehingga bila terjadi kontak ulang dengan hapten, peptide asal autoprotein dipresentasikan lagi oleh sel Langerhans. Sel T memori akan memberi respons terhadap antigen tersebut dengan melepas sitokin (IFN-γ) yang menarik Th1 dan monosit ke tempat kontak serta meningkatkan ekspresi molekul adhesi pada sel endotel dan menimbulkan inflamasi (Baratawidjaja, 2002). Oleh karena itu, dermatitis kontak alergi dapat terjadi pada orang-orang yang menjadi peka akibat pekerjaan yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia (Roitt, 1985).

Dalam praktikum kali ini yang berperan sebagai antigen adalah aloe vera. Pada daun aloe vera, terkandung di dalamnya antrakuinon, suatu zat yang memiliki potensi menimbulkan iritasi dan alergi (Ferreira et al, 2007). Oleh karena itu jika terlalu sering berkontak dengan aloe vera dapat terjadi dermatitis kontak alergi. Walaupun begitu, secara umum efek samping yang ditimbulkan akibat kontak yang terus menerus dengan aloe vera masih dapat diterima (Vogler and Ernst, 1999). Hasil pengamatan menunjukkan semakin tinggi konsentrasi aloe vera yang digunakan maka sel mononuklear yang tampak juga semakin banyak. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap perubahan jumlah sel mononuklear.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu:

  1. Rata-rata sel mononuklear yang tampak pada setiap preparat:
    1. Kontrol        :     1,6
    2. Aloe vera 26%        : 4, 73
    3. Aloe vera 50%        : 5, 26
    4. Aloe vera 100%    : 7,2
  2. Semakin tinggi konsentrasi aloe vera yang diberikan maka jumlah sel mononuklear semakin meningkat.
  3. Konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap perubahan jumlah sel mononuklear yang muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, K.G. 2002. Imunologi Dasar. edisi 5. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Barber, H.R.K. 1977. Immunolgy for The Clinican. A Wiley MedicalPublications: New York.

Bellanti. J.A. 1993. Imunologi III. Gajah Mada University Press: Yogyakarta

Chapel, H., Haeney, M., 1988, Essentials of Clinical Immunology, 2nd edition, Blackwell Scientific Publications, England; 256-259.

Djuanda, A. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. edisi 3. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Eberendu, A.R., Luta, G., Edwards. J.A., McAnalley, B.H., Davis, B., Henry, S., Ray, R.C., 2005, Quantitative Colorimetric Analysis of Aloe Polysaccarides as a Measure of Aloe Vera Quality In Commercial Products, Journal of AOAC International

Ferreira, M., Teixeira, M., Silva, E., Selones, M., 2007, Allergic Contact Dermatitis to Aloe Vera, Contact Dermatitis, Vol. 57: 278-279

Ismiyati, T., Dipoyono, H.M., Indrastuti, M., 2007, Kemampuan Cetak Ekstrak Daun Lidah Buaya Sebagai Bahan Cetak Pada Pembuatan Gigi Tiruan, Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 14 (2): 88

Lawler, W., Ahmed, A., Hume, W.J., 199222, Buku Pintar Patologi Untuk Kedokteran Gigi. EGC: Jakarta

Lenner, T. 1995. Imunologi pada Penyakit Mulut. EGC: Jakarta

Roitt, I.M. 1985. Pokok-Pokok Ilmu Kedokteran. Gramedia: Jakarta

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia . RGC: Jakarta

Trihapsoro, I. 2003. Dermatitis Kontak Alergi pada Pasien Rawat Jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan. USU Digital Library

Vogler, B.K., Ernst, E., 1999, Aloe Vera: A Systematic Review of Its Clinical Effectiveness, British Journal of General Practice, Vol. 49: 823-828

Werner, J., Pichler, M.d., 2003, Delayed drug Hipersensitivity Reactions, Annals of Internal Medicine, Vol. 139 (8): 683-693


  

   

 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

INTISARI


 

PERALATAN LABORATORIUM


 

Oleh:

ADISTY RESTU POETRI

06/193743/KG/08043


 

Dalam suatu laboratorium banyak terdapat berbagai macam peralatan yang mana memiliki fungi serta prinsip yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu agar dapat melakukan praktikum dengan baik, maka setiap mahasiswa diharapkan dapat mengetahui serta memahami fungsi dan peralatan yang terdapat di laboratorium.

Metode yang digunakan agar dapat memenuhi tujuan tersebut adalah dengan mencari informasi-informasi tentang peralatan dari internet baik berdasarkan artikel ataupun jurnal. Selain itu berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh dosen di depan kelas.

Setelah melakukan observasi diketahui dalam laboratorium terdapat beberapa peralatan antara lain yaitu mikroskop, sentrifugator, inkubator, sterilisator sebagai alat utama serta micro pipe, micro tube, piring petri sebagai alat pendukung.


 

Kata kunci: mikroskop, sentrifugator, incubator


 

PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka dalam dunia kedokteran, peralatan yang ada juga mengalami perkembangan. Awalnya mungkin hanya satu peralatan di laboratorium yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian. Rasa ingin tahu sangat tinggi pada manusia akan berbagai hal di muka bumi ini menyebabkan satu buah peralatan sederhana mulai berkembang menjadi peralatan yang lebih canggih dan kemudian dari satu buah peralatan tersebut muncul pula peralatan lain dengan fungsi serta peranan yang berbeda-beda.

Berkembangnya peralatan-peralatan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu bentuk perwujudan dari rasa ingin tahu dalam diri manusia yang tinggi. Bahkan peralatan yang hanya memiliki satu buah fungsi tidak menutup kemungkinan berubah menjadi multifungsi.

Mahasiswa kedokteran gigi dalam kegiatannya sangat terkait dengan peralatan laboratorium. Sehingga diharapkan dapat berperan serta dalam perkembangan jaman yang tentunya berpengaruh terhadap perkembangan teknologi. Oleh karena itu, agar dapat melakukan praktikum ataupun penelitian dengan baik dan benar, maka mahasiswa harus mengetahui dan memahami fungsi serta prinsip dari masing-masing peralatan yang ada di dalam laboratorium.

BAHAN DAN CARA

  1. Bahan
  2. LCD dan proyektor
  3. Laptop
  4. Cara
  5. Mendengarkan penjelasan dosen mengenai peralatan laboratorium yang ditampilkan pada slide.
  6. Mencari informasi serta gambar ataupun foto seputar peralatan laboratorium melalui internet dan buku.

PEMBAHASAN

  1. Mikrsokop Cahaya

Mikroskop cahaya memiliki perbesaran 1000 kali. Mikroskop ini memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, okuler, dan kondensor.

Lensa obyektif berfungsi untuk membentuk bayangan pertama dan lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif sebesar 4 sampai 25 kali. Sedangkan lensa kondensor berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan dilihat sehingga dengan peraturan yang tepat akan diperoleh daya pisah maksimal (Mikroskop wikipedia 10/09/2008).

  1. Mikroskop Fluoresens

Mikroskop fluoresens mengambil keuntungan dari sifat fluoresens, suatu kemampuan untuk menyerap gelombang cahaya yang pendek (UV) dan memancarkan gelombang cahaya panjana (terlihat). Beberapa organism secara natural berfluoresens di bawah sinar UV. Jika specimen tidak memperlihatkan sifat tersebut saat di sinari dengan ultraviolet, maka specimen diberi warna menggunakn Fluorochrome. Prinsip mikroskop fluoresens adalah teknik diagnose yang disebut fluorescent-antibody (FA) techniqueatau immunofluoresence (Tortora, 2001 ).

  1. Mikroskop Fase Kontras

Cara ideal dalam meneliti ataupun mengamati makhluk hidup adalah dalam keadaan alamiahnya, yaitu tidak diberi warna. Namun pada kenyataannya makhluk hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) sifatnya tembus cahaya akibatnya bagian yang ingin dilihat justru menjadi sukar untuk diamati. Kesulitan ini akhirnya dapat diatasi dengan menggunakan mikroskop fase kontras (http://one.indoskripsi.com/content/mikroskop).

  1. Mikroskop Elektron

Mikroskop Elekron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali, elektron digunakan sebagai pengganti cahaya.

Sumber lain menyatakan bahawa mikroskop elektron mampu melakukan perbesaran obyek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran obyek dan resolusi yang jauh lebih bagus dibandingkan mikroskop cahaya (Mikroskop electron wapedia 10/09/2008).

Mikroskop elektron mempunyai dua tipe, yaitu mikroskop elektron scanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM).

  1. Transmission Electron Microscope (TEM)

    Mikroskop ini bekerja seperti layaknya sebuah slide proyektor, di mana obyek yang akan diamati ditembus oleh elektron dan pengamat dapat mengamati hasil tembusannya lewat layar. Pada resolusi yang tingi pengamat bahkan dapat melihat struktur kristal. Namun sampai sekarang pengembangan akan mikroskop electron jenis ini masih terus dilakukan sebab peneliti kerap kali merasa tidak puas terhadap syarat "agar obyek pengamatan setipis mungkin" terutama bagi peneliti yang obyek pengamatannya tidak dapat dipertipis begitu saja (http://zkarnain.tripod.com/IPTEK-01.HTM).

  2. Scanning Electron Microscope (SEM)

    Mikroskop ini memfokuskan sinar elektron pada permukaan obyek kemudian mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul di permukaan obyek. Sinar electron tersebut nantinya akan digerakkan oleh coil pembelok sinar ke seluruh permukaan obyek yang diamati. Kelemahan mikroskop ini adalah electron yang diamati bukan dari sinar electron yang dipancarkan namun electron dari dalam obyek itu sendiri. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya penumpukan electron maka obyek yang diamati harus bersifat kondusif supaya electron dapat mengalir. Sedangkan untuk obyek yang tidak kondusif dapat diatasi dengan melapisi permukaan obyek tersebut menggunakan emas, karbon atau platina setipis mungkin. Namun seperti halnya TEM, SEM ini juga tidak memuaskan peneliti terutama bagi mereka yang obyek penelitian tidak dapat dipertipis dan tidak kondusif. Sebab peneliti tersebut ingin mengamati obyek apa adanya (http://zkarnain.tripod.com/IPTEK-01.HTM).

  3. Scanning Probe Microscope

Mikroskop ini digunakan untuk mengamati gambaran permukaan obyek dengan menggunakan probe yang sangat sensitif, dan digerakkan pada permukaan obyek.

  1. Scanning Tunneling Microscope

    Merupakan salah satu jenis mikroskop elektron yang mampu menunjukkan obyek dalam bentuk gambar tiga dimensi. Agar hasil obyek pengamatan dapat ditampilkan secara maksimal maka probe harus diposisikan sedekat mungkin dengan obyek. Elektron tunnel antara permukaan obyek dengan ujung probe akan membentuk suatu sinyal elektrik. Ujung probe digerakkan di permukaan obyek namun hanya sejauh diameter atom saja. Ujung probe digerakkan naik-turun untuk menjaga sinyal elektron tetap konstan dan menjaga jarak antara permukaan obyek dengan ujung probe. Hal ini memungkinkan ujung probe untuk mengamati obyek hingga hal yang paling detail (Nobelprize.org 10/09/2008). Saat ini, scanning tunneling microscope digunakan untuk mengamati DNA secara langsung.

  2. Atomic Force Microscope

Atomic force microscope mampu menampilkan gambar dimana ukurannya lebih kecil dari 20ms. Mikroskop ini juga memungkinkan menampilkan gambar yang dari kristal yang lunak dan permukaan polimer (A. D. L. Humphris, M. J. Miles, and J. K. Hobbsb,2005).

Atomic force microscope memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan scanning electron microscope. Tidak seperti mikroskop elektron yang menghasilkan gambar dua dimensi dari sampel, atomic force microscope memberikan gambaran sampel berupa tiga dimensi. Selain itu sampel yang akan dilihat menggunakan atomic force microscope tidak memerlukan perlakuan khusus, seperti melapisi dengan karbon, dll yang dapat menimbulkan perubahan ireversibel ataupun kerusakan pada sampel. Atomic force microscope dapat bekerja sebaik mungkin dalam kondisi lingkungan seperti apapun. Hal tersebut memungkinkan utnuk melakukan studi biologi dan mengamati kehidupan suatu organisme. Secara prinsip atomic force microscope menyediakan resolusi yang lebih tinggi disbanding scanning electron microscope. Sedangkan kelemahan atomic force microscope dibanding dengan scanning electron microscope ada pada ukuran gambar. Scanning electron microscope dapat menangkap gambar dengan unit mm x mm dengan lapang pandang dalam mm. Sedangkan atomic force microscope hanya dapat menangkap gambar dengan ketinggian maksimum dalam unit micrometer dan luas maksimum pengamatan 150 x 150 micrometer. Mungkin yang dimaksud dalam hal ini yaitu kemampuan atomic force microscope yang hanya menampilkan gambar yang ukurannya sangat kecil. Sehingga jika ukurannya cukup besar, atomic force microscope tidak dapat menampilkan
(Atomic force microscope wikipedia 10/09/2008).

  1. Mikroskop Konvokal

Dalam menghasilkan gambar yang tajam dua atau tiga dimensi dengan menggunakan cahaya, mikroskop konvokal tak tertandingi. Selain itu, mikroskop konvokal ini dapat juga digunakn untuk melihat apa yang terdapat di dalam jaringan hidup specimen (Lichtman, 1998)

  1. Polymerized Chain Reaction (PCR)

PCR merupakan suatu alat yang dapat memproduksi copy DNA dalam jumlah yang sangat besar hanya dalam waktu singkat (Wistreich,1984). Copy DNA menggunakan PCR terjadi melalui tiga tahap, yaitu denaturasi, annealing, dan ekstension. Beberapa aplikasi PCR diantaranya ialah untuk mendeteksi gen yang cacat, diagnosis dini penyakit HIV,serta untuk memecahkan kasus kriminal (Clave et al.,1999).

  1. Inkubator

Masa inkubasi dengan temperatul yang terkontrol sangat dibutuhkan dalam kultur bakteri, transfuse darah, serologi, hematologu, tes kimia.

Untuk kultur bakteri yang dilakukan secara rutin di sebagian besar laboratorium, incubator dengan kapasitas yang kecil dengan thermostat hidrolic sudah cukup. Jika dibutuhkan inkubator dengan kapasitas yang besar, sebaiknya menggunakan incubator di mana untuk sirkulasi udara memakai kipas angin (Cheesbrough, 1987).

  1. Sentrifugator

Sampai saat ini kekuatan sentrifugal diperlukan untuk mengendapkan partikel dalam suatu cairan yang akan diteliti dengan menggunakan kecepatan putaran dalam rpm. Sedimentasi atau hasil endapan yang tepat sangat bergantung dari kecepatan putaran yang duberikan (Cheesbrough, 1987 ).

Sentrifugator dibedakan menjadi 4 macam berdasarkan kecepatan putarannya, antara lain clinical centrifuges (3000 rpm), microfuges (14.000 rpm), high speed centrifuges (25.000 rpm), dan ultracentrifuges (75.000 rpm) (Wallman, 1999).

  1. Laminar Hood

Laminar hood dibuat untuk melindungi pekerjaan laboratorium dari lingkungan sekitar. Pada laminar hood, dialirkan secara langsung ke sekitar daerah kerja aliran udara steril yang telah mengalami proses filtrasi. Laminar hood mempunyai peranan dalam mencegah kontaminasi saat menuang agar biakan ke dalam piring petri (Collins dan Lyne,1976).

  1. pH meter

Sebagian besar pH meter menggunakan kombinasi pH electrode yang mana sebuah electrode di dalam gelas pengukur akan dikombinasikan menjadi satu kesatuan unit bersama reference calomel electrode. Perbedaan potensial yang terukur dihubungkan ke pH value, dengan mengukur perbedaan potensial pada buffer, pH dapat diketahui secara tepat (Cheesbrough, 1987).

KESIMPULAN

Setelah melakukan praktikum maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan, yaitu:

  1. Dalam laboratorium terdapat berbagai macam alat, di mana terdapat 2 kategori yaitu alat utama dan alat pendukung.
  2. Alat utama yang ada di dalam laboratorium antara lain adalah mikroskop, sterilisator, incubator dan sntrifugator.
  3. Alat pendukung di dalam laboratorium yaitu micro pipe, micro tube, micro tip, micro plate, piring petri, water bath, PCR, pH meter, ELISA reader, spektrofotometer, dll.

DAFTAR PUSTAKA

Binning, G., Rohrer, H., 1986, The Scanning Tunneling Microscope, http://www.nobelprize.org/educational_games/physics/microscopes


 

Cheesbrough, Monica. 1987. Medical Laboratory for Tropical Countries. 2nd ed. ELBS


 

Clave E, Molldrem J, Raptis A, Barrett AJ.Donor Recipient Polymorphism of The

    Proteinase 3 Gene : A Potential Target for T-Cell Alloresponses to Myeloid

    Leukemia. Journal of Immunotherapy. 1999; 22(1):1-6


 

Collins, C.H., Lyne, Patricia M. Microbiological Methods. 4th ed. London: Butterworths

    &Co. 1976.


 

Humphris, A.D.L., Miles, M.J., Hobbsb, J.K., A mechanical microscope: High-speed atomic force microscopy, American Institute of Physics, United Kingdom


 

Lichtman, J.W. 1998. Confocal Microscopy. Scientific American. New York.


 

Tortora, Gerard J., Funke., Berdel R and Cae. Christine L., 2001, Microbiology an Introduction,7th ed, Benjamin Cumming, USA


 

Wallman, Sonia, 2005, Centrifugation, http://biotech.nhctc.edu/BT210/tutorial2.html


 

Wapedia Encyclopedia, Mikroskop Elektron, http://orlingo.com/sites/wapedia.mobi/id/Mikroskop_elektron


 

Waskitoaji, Wihatmoko, 2000, Melihat Dunia Mikro Dengan Mikroskop Elektron, http://zkarnain.tripod.com/IPTEK-01.HTM.


 

Wikipedia Encyclopedia, Atomic Force Microscope, http//en.wikipedia.org/wiki/Atomic Force Microscope.


 

Wikipedia Encyclopedia, Microscope, http//en.wikipedia.org/wiki/Microscope.


 

Wilstreich, G.A. Microbiology Laboratory Fundamentals and Applications. New Jersey:

    Prentice Hall. 1984.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Rabu, 01 April 2009

PENGARUH EKSTRAK ADAS 50% TERHADAP

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


 

ADISTY RESTU POETRI

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta


 

ABSTRACT

Background: Tissue injury causes the disruption of blood vessels and extravasation of blood constituents. Localized vasodilation, increased vascular permeability, extravasation of plasma (and humoral) proteins, and migration of leukocytes into the affected tissue produce the classic signs of inflammation: calor, dolor, rubor, tumor, and functio laesa. Collagen is the major protein component of the connective tissue of vertebrates. Foeniculum vulgare Mill belongs to the Family Apiaceae (former Umbelliferae). F. vulgare is claimed to have an effect in relieving inflammation. In an in vivo study with mice, oral administration of Foeniculum vulgare fruit methanolic extract exhibited inhibitory effects against acute and subacute inflammatory diseases and type IV allergic reactions and showed a central analgesic effect. The aim of this practicum is to observed density of collagen fiber in wound healing after it given by topical extract herbal.

Methods and results: Students observed control slides and adas extract slides in the 1st, 3rd, 5th, 7th, 10th and 14th days by microscope in 10 viewfield. Student gave score for every density of collagen fiber and the results of practicum is density collagen adas extract slides increased from the 1st day until th 3rd day and decreased from the 5th day until the 10th day but it the last day it increased.

Conclusion: Extract adas 50% increasing density collagen and proliferate vascular so it makes wound healing faster.


 

Keywords: Inflammation, collagen, Foeniculum vulgare Mill


 

PENDAHULUAN

Inflamasi merupakan luka pada jaringan yang disebabkan adanya gangguan pada pembuluh darah dan ekstravasasi unsur-unsur darah (Heldin et al, 1996). Vasodilatasi saat inflamasi disebabkan karena meningkatnya permeabilitas pembuluh darah, ektravasasi plasma, dan migrasi leukosit sehingga menimbulkan tanda spesifik pada kulit jika terjadi inflamasi, yaitu: kalor, dolor, rubir, tumor, dan penurunan fungsi (Webster et al, 2002). Adanya luka pada tubuh akan menimbulkan rekasi penyembuhan yang terdiri dari fase hemostasis, inflamasi, granulasi, dan maturasi (Mc Gee dkk, 2001). Pada fase inflamasi terdapat 4 hal mendasar, yaitu 1) Peradangan, yang merupakan manifestasi morfologi dan klinik dari hemostasis serta debridement jaringan; 2) Faktor-faktor yang dilepaskan dan didepositkan pada luka selama fase inflamasi akan menginisiasi pembentukan jaringan granulasi; 3) Fase inflamasi berakhir dengan sendirinya seiring hilangnya rangsang; 4) Benda-benda asing, seperti bakteri yang dapat menimbulkan peradangan persisten dan memperlambat penyembuhan luka (Kalangi, 2004).

Kolagen adalah suatu protein ekstraseluler tetapi disintesis sebagai suatu molekul prazat intraseluler yang mengalami modifikasi post translasi sebelum menjadi fibril kolagen matur (Martin et al, 1983). Fungsi utama serat kolagen adalah menambah kekuatan pada jaringan ikat. (Geneser, 2000)

Tanaman adas adalah tanaman herbal tahunan dari family umbelliferae dan genus foeniculum. Di Indonesia dikenal dua jenis adas yang termasuk ke dalam family umbelliferae, yaitu adas (Foenicullum vulgare Mill) dan adas sowa (Anetum graveolens Linn) (Rusmin dkk, 2007). F. vulgare dinyatakan mempunyai efek menghilangkan inflamasi. Dari percobaan yang dilakukan terhadap tikus, tanaman ini mampu menghambat efek penyakit akibat inflamasi akut ataupun subakut, dan rekasi alergi tipe IV serta menunjukkan efek analgesik (Choi et al, 2004). Efek minyak atsiri pada hemostasis tampak dengan adanya korelasi yang signifikan dengan phenilpropanoid yang terkandung di dalamnya (Stashenko et al, 2002).

Tujuan dilaksanakannya praktikum agar mampu mengamati kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka gingival setelah pemberian topikal ekstrak tanaman obat.


 

BAHAN DAN CARA

Pada praktikum kali ini bahan yang digunakan adalah 12 preparat, di antaranya adalah control pada hari ke-1, 3, 5, 7, 10, dan 14 serta sisanya adalah preparat yang telah diberi perlakuan yaitu ekstrak buah adas konsentrasi 50% pada hari ke-1, 3, 5, 7, 10, dan 14.

Dari preparat kontrol, di ambil gambar dan ditentukan masing-masing kepadatan kolagen dengan skor 1, 2 dan 3 di bawah mikroskop perbesaran 40X. Dari masing-masing preparat kontrol dan yang diberi perlakuan diambil 10 lapang pandang dan diamati oleh 3 pengamat. Hasil pengamata dicatat, dicari rata-ratanya dan dianalisis.


 

HASIL PENGAMATAN

Terlihat adanya perbedaan kepadatan kolagen yang berbeda-beda di setiap bagian. Pemberian skor diberikan berdasarkan kepadatannya seperti yang tertera pada tabel.

Tabel 1- Skor kepadatan kolagen pada preparat kontrol

Skor 1

Skor 2

Skor 3


 

Pada hari pertama baik pada preparat kontrol dan perlakuan mengalami peningkatan jumlah kolagen, di mana rata-rata kepadatan kolagen pada preparat yang diberi perlakuan lebih tinggi. Begitu pula pada hari kedua dan keempat belas. Pada hari kelima baik preparat kontrol dan perlakuan rata-rata kepadatan kolagen meningkat, namun rata-rata kepadatan kolagen pada preparat dengan perlakuan lebih rendah. Sedangkan pada hari kesepuluh kedua preparat mengalami penurunan rata-rata kepadatan kolagen

Tabel 2 – Rata-rata kepadatan kolagen pada preparat kontrol dan perlakuan

PREPARAT

RATA-RATA KEPADATAN KOLAGEN

KONTROL

PERLAKUAN ADAS 50%

HARI KE-1

1,1

1,3

HARI KE-3

1,4

1,5

HARI KE-5

1,7

1,6

HARI KE-7

1,8

1,5

HARI KE-10

1,6

1,5

HARI KE-14

1,9

2

RATA-RATA

1,6

1,6


 

PEMBAHASAN

Pada dasarnya pemberian ekstrak adas 50% akan mempercepat proses penyembuhan luka, sebab tanaman adas mengandung minyak atsiri yang diduga sebagai antimikrobial sehingga mencegah terjadinya infeksi. Minyak atsiri tersebut adalah produk utama adas (Hasanah, 2004) yang mengandung anethol sekitar 70% (Bantain dan Chung, 1994).

Selain minyak atsiri, tanaman adas juga mengandung flavonoid yang memiliki efek antiinflamasi (Middleton dkk, 2000). Menurut Kanzaki dkk (1998) adanya saponin yang terkandung di dalam buah adas akan menstimulasi proliferasi pembuluh darah. Saponin juga akan meningkatkan sintesa TGF-β yang menstimulasi terbentuknya biosintesa kolagen (Kanzaki, 1998). Namun konsentrasi saponin yang diberikan harus diperhatikan sebab, konsentrasi saponin yang terlalu tinggi akan menyebabkan peningkatan permeabilitas membran yang dapat berakibat pada kematian sel dan jika konsentrasi terlalu rendah akan menimbulkan hemolisis pada sel darah merah.

Banyaknya manfaat yang terkandung dalam tanaman adas seperti yang telah dipaparkan menjadikan salah satu alasan mengapa pada preparat yang diberi perlakuan memiliki rata-rata kepadatan kolagen sama besar dengan preparat kontrol, seharusnya jika mengacu pada teori, rata-rata pada preparat perlakuan lebih tinggi disbanding pada preparat kontrol. Sebab, tanaman adas membantu dalam proses inflamasi menuju proliferasi pembuluh darah dimana serabut kolagen yang sudah mulai terbentuk akan dipercepat pembentukannya dengan adanya vitamin C yang terkandung dalam buah adas dan terbentuk serabut yang matang serta kuat (Setyaningrum, 2002).

Pada hari pertama dan ketiga tampak adanya perbedaan yang cukup signifikan. Menurut Andjani dan Maharddika (2003) adas mengandung fixed oil yang dapat meningkatkan agregasi platelet dan proliferasi pembuluh darah yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Agregasi platelet membentuk anyaman fibrin yang menjadi kerangka epitel dan fibroblast serta pembuluh darah yang berproliferasi (Robbins dan Kumar, 1992) dan pada hari ketiga mulai terbentuk serabut kolagen baru untuk menutup luka.

Menurut (Indrawati, 1996) lima hari setelah luka mulai terbentuk jaringan granulasi longgar yang banyak mengandung pembuluh darah dan serabut kolagen. Pada hari kesepuluh dan keempat belas juga tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan, sebab menurut Robbins dan Kumar (1992) pada minggu kedua terjadi proliferasi fibroblast dan penimbunan serabut kolagen disertai reaksi radang yang hampir hilang seluruhnya sehingga tahap proliferasi berjalan maksimal kemudian akan terbentuk jaringan parut.

Seharusnya kepadatan kolagen hari kelima, ketujuh dan kesepuluh pada perlakuan lebih tinggi. Adanya penurunan pada preparat perlakuan yang tidak sesuai teori dapat disebabkan karena kurang tepatnya pengambilan lapang pandang saat pengamatan, sehingga cenderung mengamati pada daerah dengan kepadatan kolagen yang tipis. Selain itu, dari praktikan sendiri masih mengalami kesusahan dalam menilai kepadatan kolagen meskipun diawal praktikum telah menyamakan persepsi.


 

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak adas 50% dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka dengan meningkatkan proliferasi pembuluh darah serta kepadatan kolagen.


 

DAFTAR PUSTAKA

Andajani, T.W. dan Maharddika, D., 2003, Perbandingan Efek Aplikasi Adas Manis Segar Tumbuk dan Adas Manis Segar Destilasi Pada Mukosa Mulut Tikus Wistar Strain LMR yang Mengalami Peradangan (Penelitian Laboratorik), FKGUI, 10(Edisi Khusus):478-480.


 

Bantain , M., Chung, B., 1994, Effects of Irrigation on Nitrogen on the Yield Components of Fennel (Foenicullum Vulgare Mill), Aust.J.exp.Agric, 34: 845 -849


 

Choi, E.M., Hwang, J.K., 2004, Antiinflammatory, Analgesic and Antioxidant Activities of The Fruit of Foeniculum Vulgare, Fitoterapia, 75(6): 557-65


 

Geneser, F. 2000. Buku Teks Histologi. Jilid 1. Staf Pengajar Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Indonesia: Jakarta


 

Hasanah, M. 2004. Perkembangan Teknologi Budidaya Adas (Foenicullum Vulgare Mill). Jurnal Litbang Pertanian. 23(4): 139


 

Heldin, C.H., Westermark. B., 1996, Role of Platelet-derived Growth Factor In Vivo. In: Clark RAF, ed. The Molecular and Cellular Biology of Wound Repair, 2nd ed, Plenum Press: New York: 249-73


 

Indrawati, A., 1996. Peranan Kolagen Dalam Makanan Terhadap Kecepatan Penyembuhan Luka Jaringan Periodontal Tikus. M.I. Ked. Gigi FKG Usakti. 11(31):4-11.


 

Kalangi, S.J.R. 2004. Peran Kolagen Pada Penyembuhan Luka. Dexa Media.     17(4): 168-74.


 

Kanzaki, T., Morisaki, N., Shiina, R., Saito, Y., 1998, Role of Transforming Growth Factor-β Pathway in the Mechanism of Wound Healing by Saponin from Gingseng Radix rubra, British Journal of Pharmacology, 125:255-262.


 

Mc Gee, M., Binkley, J., Jensen, G.L., 2001, The Science and Practice of     Nutrition Support, Kendall/Hunt Publishing CO: Iowa.


 

Middleton, J.R.E., Kandaswami, C., Theoharides, T.C., 2000, The Effects of Plant     Flavonoids on Mammalian Cells: Implications for Inflammation, Heart     Disease,and Cancer, Pharmacol Rev.
52(4): 673-751.


 

Robbins, S.L., Kumar, V.K., 1992, Buku Ajar Patologi I, edisi 4, EGC: Jakarta.


 

Rusmin, D., Melati, 2007, Tanaman Adas, Warta Puslitbangun; 13(2).


 

Setyaningrum, A. 2002. Pengaruh Pemberian Vitamin C Dosis Tertentu Terhadap Kecepatan Penutupan Penyembuhan Luka Pasca Pencabutan Gigi. Skripsi Bagian Bedah Mulut FKG UGM. Yogyakarta.


 

Stashenko, E.E., Puertas, M.A., Martinez, J.R., 2002, SPME Determination of Volatile Aldehydes For Evaluation of In-Vitro Antioxidant Activity, Anal Bioanal Chem, 373(1-2): 70-4


 

Webster J.L., Tonelli. L., Sternberg, E.M., 2002, Neuroendocrine Regulation of Immunity, Annu Rev Immunol; 20: 125-63

LAPORAN BIOLOGI MULUT III


 

PENGARUH EKSTRAK ADAS 50% TERHADAP

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


 


 

Diserahkan sebagai bagian dari prasyarat Biologi Mulut III


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Disusun oleh :

Adisty restu Poetri

06/193743/KG/08043


 


 


 

LABORATORIUM BIOLOGI MULUT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2009

Minggu, 11 Januari 2009

Senang... Sedih...

Semalam aku mimpi indaaahhh,,,, banget,,,
berkali aku terbangun dari mimpi itu,,,
berharap ku dapatkan kenyataan yang seindah itu,,, tapi harapan itu hanya harapan,,
ku kembali tertidur,,, dan mimpi itu datang lagi,
melanjutkan mimpi yang terhenti..

AKu terbangun lagi,,
berharap lagi,,,melihat sang waktu yang terus berjalan,,,
tapi,,,hati ini terasa sakit,,,
harapanku hanya harapan semu,,,

Ingin aku menangis,,,mengetahui pada akhirnya semua ini hanya mimpi,,,
Ingin aku membencinya,,,karena memberi berjuta harapan,
membuatku tertawa,,,tersenyum,,
dan dalam sekian detik dihancurkannya...

I miss U so mac...

Jumat, 09 Januari 2009

My new step...2 b closer with my dreams

Hmmmm,,
yesterday i heard from my luphy radio, Swaragama 101,7 FM..
about a training,,,what training??
I dun't tell it now...
Just a secret for now...
Probably after I finished it, I'll write about my precious 5 days,,,
from 19 Januari - 23 Januari,,
I'll spend my days in Jogja as usual, but with something so precious..

In this new year,,,i try 2 do something that useful 4 my future...
I hope someday i can reach one of my dreams...my dreams from my deepest heart.
N,,my training is my first step 2 b closer with my dreams...
I must do it seriously,,,
Actually, from my deepest heart, i feel little bit,,scare.
I'll do it alone,,without my friends..usually i do something with my friends..
I'm too weak 2 b alone,,,
I'm 2 shy to stand alone in new place around new people that i dun't know yet..
But,,in the other side, i know..I have to change it...

WIsMiLak, yah...

Hope In this year, 2009..I'll be better People...
I'll be better daughter 4 my parents..
B better sister 4 my sister and brother
b better place 4 my best friends 2 talk about them..
b better person 2 be a friend...

Kamis, 08 Januari 2009

Perlawanan Manusia

Aku kesepian, aku keramaian
Bercampur padu tak terarah
Berlawanan, bermusuhan

Jiwa kegelapan, sebuah jiwa bercahaya
Berbaur dalam dunia setiap manusia
Tak mengerti apa itu
Saling melengkapikah?

Kanan…kiri…
Atas…bawah…
Tinggi…rendah…
Semuanya berlawanan
Tiada keharmonisan
Apakah itu memang manusia?
Mengapa berlawanan?

Sabtu, 03 Januari 2009

Aku KanGen TeMPatKu BercErita..

Pada siapa ku bisa bercerita

Tentang asa yang kurasa

Dimanakah tempat yang kucari

Yang mampu mengerti diriku

Tanpa harus kukatakan padanya

Karena aku telah kehilangan tempat itu.



Aku kangen kamu...

Hix,,,hix,,

You make me feel alone,,,

Jumat, 02 Januari 2009

Untitled

Ga ada judulnya,..
aku ga taw gimana harus nggambarin perasaanku sekarang,,,

Sebel..
capeekk,,
kesepian,,
sediihh,,,
kehilangan,,,
jengkel...
bosen,,,

banyak banget...

dah gitu maw ujian, pula,,
uuuhhh,,,,,aku sebeeeelll,,,
makin tekanan mental aja,,,

Di mana aku bisa cerita??
Di mana sahabatku????

Aku pengen nangis..
tapi,,,aku terlalu lemah wat ngluarin air mata,,
aku mau tertawa..
aku tertawa...tapi,,knapa hatiku ga mau ikut ktawa?
knapa harus mrasa seperti ini lagi??
knapa saat dekat mau ujian??
Knapa??

Senin, 22 Desember 2008

Bunda

Bunda...
Sembilan bulan kau mengandungku
Selama itu pula, kau bawa aku kemanapun kau pergi
Tanpa ada beban di hatimu
Bunda...
Empat belas tahun sudah berlalu
Kau curahkan kasih sayangmu padaku
Kau didik aku, dan kau lindungi aku
Bunda...
Ingin aku membahagiakanmu
Ingin ku membanggakanmu
Namun, mengapa slalu kecewa yang kuber?
Mengapa slalu kesedihan yang kau dapat?
Bunda...
Maafkan segala kesalahnku
Janganlah kau menangis untukku
Air matamu terlalu berharga untuk itu
Karena aku adalah anak durhaka
Bunda...
Satu hal yang harus kau tau
Tiga kata yang ingin kuucapkan untukmu
Aku sayang padamu
Bunda...


NOTE: Q Persembahkan puisi ini untuk ibuku tersayang di Hari Ibu
Luph U mom...
Wiah U all de best..
thanx 4 everithing u've given 2 me...

3 1/2 Tahun

31/2 Tahun


Pertama kali di tempat yang baru kupijak

Kepercayaan dan rasa persahabatan tumbuh

Tertanam dalam sudut hatiku dan mekar slama 31/2 tahun

Aku slalu sayang padamu

Namamu sudah lekat dalam hatiku

Ku harap kita adalah satu slamanya

31/2 tahun waktu yang cukup

Mengerti, membenci, dan sgalanya

Aku, kamu, tahu itu

Di tahun 31/2 hanya serpihan kertas

Waktuku berjalan terus dan terus

Hatiku tlah kau pateri

Berhenti dan ingin berjalan menuju masa lampau

Saat ini kita jauh, tak bersama lagi

Pakah kita musuh?

Ataukah masih ada tempat?

Walau hanya satu, jangan kau hapus jiwaku

Meski 31/2 tahun hanya itu, dan kan layu

Dirimu dan sgalanya yang kau punya

Amat ku sayangi dan tak ku lepas

Tetap ada tempat untuk dirimu

Puisi ini kubuat hanya untuk dirimu,Tan. Sahabatku yang slalu mengerti aku.Aku slalu menunggumu.Menanti sgala yang kau punya

Kau sahabatku, dan aku slalu menunggumu

Walau mungkin tak seperti

Dulu lagi. Ada rasa hampa yang slalu mengiringi kisah hidupku sejak kau tak pernah muncul dalam kehidupan ku.


Note: Puisi ini ku buat saat sahabat yang sangat aku sayangi begitu membenciku. Dengan mudah dia mampu melontarkan kata-kata yang menyakitkan hatiku. Karena salah yang tak pernah ingin sengaja ku buat. Entah berapa lama baru dia mau biacara padaku, dan aku tak tau apakah aku masih sahabat baginya. Tapi bagiku, dia sahabatku.

Minggu, 21 Desember 2008

Sepenggal Kalimat Untukmu

Dirimu jauh di sana
Tapi dalam hati ini, kau terlalu dekat
Mengisi setiap relungnya,,
Membuatku tersiksa akan rindu yang tak terungkapkan,,,

Senyum, canda, tawa, tangis...
Tak pernah lekang dari setiap ingatan,,
Lewat jendelaku,,,selalu ingin ku lihat itu semua,,
Tak kan pernah cukup kenangan denganmu,,

Dan kini,,
aku rindu,,
aku suka,,
aku ingin,,
segala tentangmu,,,


Teruntuk Matahariku,,,
Teruntuk Semarak Warna Hidupku,,,

Sabtu, 20 Desember 2008

PeARl WOrd... WIsdom WOrd (3)

Langit selalu adil terhadap semua makhluk yang berlindung di bawahnya. Apa yang ditabur seseorang itu juga yang akan dituainya. Saat kau berbuat kebaikan kepada orang lain, sebenarnya kau berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri.
Saat kau memberi kepada orang lain, sebenarnya kau sedang memberi kepada dirimu sendiri.
----------Fudus Ororpus------------

Setiap manusia itu istimewa, termasuk kamu. Jadi sayangilah dan hargai dirimu, dan juga orang lain.
----------Kana di Negeri Kiwi----------

Jadilah dirimu sendiri, itu yang terbaik
----------Sarah Sanders-------------

Jaga dirimu baik-baik, dunia hanya punya satu orang seperti dirimu
----------Kelly Fletcher------------

Love actually is everywhere
------Rudy--------

Never trouble about trouble until trouble troubles you.
Jangan mengkhawatirkan suatu masalah sampai masalah itu benar-benar ada.
-------Jyotika TaLWar--------

Semua orang layak dicintai. Bahkan orang yang kau benci pun layak dicintai, begitu juga dengan orang-orang yang membencimu.
--------Kana's Dad---------