Rabu, 01 April 2009

PENGARUH EKSTRAK ADAS 50% TERHADAP

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


 

ADISTY RESTU POETRI

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta


 

ABSTRACT

Background: Tissue injury causes the disruption of blood vessels and extravasation of blood constituents. Localized vasodilation, increased vascular permeability, extravasation of plasma (and humoral) proteins, and migration of leukocytes into the affected tissue produce the classic signs of inflammation: calor, dolor, rubor, tumor, and functio laesa. Collagen is the major protein component of the connective tissue of vertebrates. Foeniculum vulgare Mill belongs to the Family Apiaceae (former Umbelliferae). F. vulgare is claimed to have an effect in relieving inflammation. In an in vivo study with mice, oral administration of Foeniculum vulgare fruit methanolic extract exhibited inhibitory effects against acute and subacute inflammatory diseases and type IV allergic reactions and showed a central analgesic effect. The aim of this practicum is to observed density of collagen fiber in wound healing after it given by topical extract herbal.

Methods and results: Students observed control slides and adas extract slides in the 1st, 3rd, 5th, 7th, 10th and 14th days by microscope in 10 viewfield. Student gave score for every density of collagen fiber and the results of practicum is density collagen adas extract slides increased from the 1st day until th 3rd day and decreased from the 5th day until the 10th day but it the last day it increased.

Conclusion: Extract adas 50% increasing density collagen and proliferate vascular so it makes wound healing faster.


 

Keywords: Inflammation, collagen, Foeniculum vulgare Mill


 

PENDAHULUAN

Inflamasi merupakan luka pada jaringan yang disebabkan adanya gangguan pada pembuluh darah dan ekstravasasi unsur-unsur darah (Heldin et al, 1996). Vasodilatasi saat inflamasi disebabkan karena meningkatnya permeabilitas pembuluh darah, ektravasasi plasma, dan migrasi leukosit sehingga menimbulkan tanda spesifik pada kulit jika terjadi inflamasi, yaitu: kalor, dolor, rubir, tumor, dan penurunan fungsi (Webster et al, 2002). Adanya luka pada tubuh akan menimbulkan rekasi penyembuhan yang terdiri dari fase hemostasis, inflamasi, granulasi, dan maturasi (Mc Gee dkk, 2001). Pada fase inflamasi terdapat 4 hal mendasar, yaitu 1) Peradangan, yang merupakan manifestasi morfologi dan klinik dari hemostasis serta debridement jaringan; 2) Faktor-faktor yang dilepaskan dan didepositkan pada luka selama fase inflamasi akan menginisiasi pembentukan jaringan granulasi; 3) Fase inflamasi berakhir dengan sendirinya seiring hilangnya rangsang; 4) Benda-benda asing, seperti bakteri yang dapat menimbulkan peradangan persisten dan memperlambat penyembuhan luka (Kalangi, 2004).

Kolagen adalah suatu protein ekstraseluler tetapi disintesis sebagai suatu molekul prazat intraseluler yang mengalami modifikasi post translasi sebelum menjadi fibril kolagen matur (Martin et al, 1983). Fungsi utama serat kolagen adalah menambah kekuatan pada jaringan ikat. (Geneser, 2000)

Tanaman adas adalah tanaman herbal tahunan dari family umbelliferae dan genus foeniculum. Di Indonesia dikenal dua jenis adas yang termasuk ke dalam family umbelliferae, yaitu adas (Foenicullum vulgare Mill) dan adas sowa (Anetum graveolens Linn) (Rusmin dkk, 2007). F. vulgare dinyatakan mempunyai efek menghilangkan inflamasi. Dari percobaan yang dilakukan terhadap tikus, tanaman ini mampu menghambat efek penyakit akibat inflamasi akut ataupun subakut, dan rekasi alergi tipe IV serta menunjukkan efek analgesik (Choi et al, 2004). Efek minyak atsiri pada hemostasis tampak dengan adanya korelasi yang signifikan dengan phenilpropanoid yang terkandung di dalamnya (Stashenko et al, 2002).

Tujuan dilaksanakannya praktikum agar mampu mengamati kepadatan serabut kolagen pada proses penyembuhan luka gingival setelah pemberian topikal ekstrak tanaman obat.


 

BAHAN DAN CARA

Pada praktikum kali ini bahan yang digunakan adalah 12 preparat, di antaranya adalah control pada hari ke-1, 3, 5, 7, 10, dan 14 serta sisanya adalah preparat yang telah diberi perlakuan yaitu ekstrak buah adas konsentrasi 50% pada hari ke-1, 3, 5, 7, 10, dan 14.

Dari preparat kontrol, di ambil gambar dan ditentukan masing-masing kepadatan kolagen dengan skor 1, 2 dan 3 di bawah mikroskop perbesaran 40X. Dari masing-masing preparat kontrol dan yang diberi perlakuan diambil 10 lapang pandang dan diamati oleh 3 pengamat. Hasil pengamata dicatat, dicari rata-ratanya dan dianalisis.


 

HASIL PENGAMATAN

Terlihat adanya perbedaan kepadatan kolagen yang berbeda-beda di setiap bagian. Pemberian skor diberikan berdasarkan kepadatannya seperti yang tertera pada tabel.

Tabel 1- Skor kepadatan kolagen pada preparat kontrol

Skor 1

Skor 2

Skor 3


 

Pada hari pertama baik pada preparat kontrol dan perlakuan mengalami peningkatan jumlah kolagen, di mana rata-rata kepadatan kolagen pada preparat yang diberi perlakuan lebih tinggi. Begitu pula pada hari kedua dan keempat belas. Pada hari kelima baik preparat kontrol dan perlakuan rata-rata kepadatan kolagen meningkat, namun rata-rata kepadatan kolagen pada preparat dengan perlakuan lebih rendah. Sedangkan pada hari kesepuluh kedua preparat mengalami penurunan rata-rata kepadatan kolagen

Tabel 2 – Rata-rata kepadatan kolagen pada preparat kontrol dan perlakuan

PREPARAT

RATA-RATA KEPADATAN KOLAGEN

KONTROL

PERLAKUAN ADAS 50%

HARI KE-1

1,1

1,3

HARI KE-3

1,4

1,5

HARI KE-5

1,7

1,6

HARI KE-7

1,8

1,5

HARI KE-10

1,6

1,5

HARI KE-14

1,9

2

RATA-RATA

1,6

1,6


 

PEMBAHASAN

Pada dasarnya pemberian ekstrak adas 50% akan mempercepat proses penyembuhan luka, sebab tanaman adas mengandung minyak atsiri yang diduga sebagai antimikrobial sehingga mencegah terjadinya infeksi. Minyak atsiri tersebut adalah produk utama adas (Hasanah, 2004) yang mengandung anethol sekitar 70% (Bantain dan Chung, 1994).

Selain minyak atsiri, tanaman adas juga mengandung flavonoid yang memiliki efek antiinflamasi (Middleton dkk, 2000). Menurut Kanzaki dkk (1998) adanya saponin yang terkandung di dalam buah adas akan menstimulasi proliferasi pembuluh darah. Saponin juga akan meningkatkan sintesa TGF-β yang menstimulasi terbentuknya biosintesa kolagen (Kanzaki, 1998). Namun konsentrasi saponin yang diberikan harus diperhatikan sebab, konsentrasi saponin yang terlalu tinggi akan menyebabkan peningkatan permeabilitas membran yang dapat berakibat pada kematian sel dan jika konsentrasi terlalu rendah akan menimbulkan hemolisis pada sel darah merah.

Banyaknya manfaat yang terkandung dalam tanaman adas seperti yang telah dipaparkan menjadikan salah satu alasan mengapa pada preparat yang diberi perlakuan memiliki rata-rata kepadatan kolagen sama besar dengan preparat kontrol, seharusnya jika mengacu pada teori, rata-rata pada preparat perlakuan lebih tinggi disbanding pada preparat kontrol. Sebab, tanaman adas membantu dalam proses inflamasi menuju proliferasi pembuluh darah dimana serabut kolagen yang sudah mulai terbentuk akan dipercepat pembentukannya dengan adanya vitamin C yang terkandung dalam buah adas dan terbentuk serabut yang matang serta kuat (Setyaningrum, 2002).

Pada hari pertama dan ketiga tampak adanya perbedaan yang cukup signifikan. Menurut Andjani dan Maharddika (2003) adas mengandung fixed oil yang dapat meningkatkan agregasi platelet dan proliferasi pembuluh darah yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Agregasi platelet membentuk anyaman fibrin yang menjadi kerangka epitel dan fibroblast serta pembuluh darah yang berproliferasi (Robbins dan Kumar, 1992) dan pada hari ketiga mulai terbentuk serabut kolagen baru untuk menutup luka.

Menurut (Indrawati, 1996) lima hari setelah luka mulai terbentuk jaringan granulasi longgar yang banyak mengandung pembuluh darah dan serabut kolagen. Pada hari kesepuluh dan keempat belas juga tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan, sebab menurut Robbins dan Kumar (1992) pada minggu kedua terjadi proliferasi fibroblast dan penimbunan serabut kolagen disertai reaksi radang yang hampir hilang seluruhnya sehingga tahap proliferasi berjalan maksimal kemudian akan terbentuk jaringan parut.

Seharusnya kepadatan kolagen hari kelima, ketujuh dan kesepuluh pada perlakuan lebih tinggi. Adanya penurunan pada preparat perlakuan yang tidak sesuai teori dapat disebabkan karena kurang tepatnya pengambilan lapang pandang saat pengamatan, sehingga cenderung mengamati pada daerah dengan kepadatan kolagen yang tipis. Selain itu, dari praktikan sendiri masih mengalami kesusahan dalam menilai kepadatan kolagen meskipun diawal praktikum telah menyamakan persepsi.


 

KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak adas 50% dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka dengan meningkatkan proliferasi pembuluh darah serta kepadatan kolagen.


 

DAFTAR PUSTAKA

Andajani, T.W. dan Maharddika, D., 2003, Perbandingan Efek Aplikasi Adas Manis Segar Tumbuk dan Adas Manis Segar Destilasi Pada Mukosa Mulut Tikus Wistar Strain LMR yang Mengalami Peradangan (Penelitian Laboratorik), FKGUI, 10(Edisi Khusus):478-480.


 

Bantain , M., Chung, B., 1994, Effects of Irrigation on Nitrogen on the Yield Components of Fennel (Foenicullum Vulgare Mill), Aust.J.exp.Agric, 34: 845 -849


 

Choi, E.M., Hwang, J.K., 2004, Antiinflammatory, Analgesic and Antioxidant Activities of The Fruit of Foeniculum Vulgare, Fitoterapia, 75(6): 557-65


 

Geneser, F. 2000. Buku Teks Histologi. Jilid 1. Staf Pengajar Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Indonesia: Jakarta


 

Hasanah, M. 2004. Perkembangan Teknologi Budidaya Adas (Foenicullum Vulgare Mill). Jurnal Litbang Pertanian. 23(4): 139


 

Heldin, C.H., Westermark. B., 1996, Role of Platelet-derived Growth Factor In Vivo. In: Clark RAF, ed. The Molecular and Cellular Biology of Wound Repair, 2nd ed, Plenum Press: New York: 249-73


 

Indrawati, A., 1996. Peranan Kolagen Dalam Makanan Terhadap Kecepatan Penyembuhan Luka Jaringan Periodontal Tikus. M.I. Ked. Gigi FKG Usakti. 11(31):4-11.


 

Kalangi, S.J.R. 2004. Peran Kolagen Pada Penyembuhan Luka. Dexa Media.     17(4): 168-74.


 

Kanzaki, T., Morisaki, N., Shiina, R., Saito, Y., 1998, Role of Transforming Growth Factor-β Pathway in the Mechanism of Wound Healing by Saponin from Gingseng Radix rubra, British Journal of Pharmacology, 125:255-262.


 

Mc Gee, M., Binkley, J., Jensen, G.L., 2001, The Science and Practice of     Nutrition Support, Kendall/Hunt Publishing CO: Iowa.


 

Middleton, J.R.E., Kandaswami, C., Theoharides, T.C., 2000, The Effects of Plant     Flavonoids on Mammalian Cells: Implications for Inflammation, Heart     Disease,and Cancer, Pharmacol Rev.
52(4): 673-751.


 

Robbins, S.L., Kumar, V.K., 1992, Buku Ajar Patologi I, edisi 4, EGC: Jakarta.


 

Rusmin, D., Melati, 2007, Tanaman Adas, Warta Puslitbangun; 13(2).


 

Setyaningrum, A. 2002. Pengaruh Pemberian Vitamin C Dosis Tertentu Terhadap Kecepatan Penutupan Penyembuhan Luka Pasca Pencabutan Gigi. Skripsi Bagian Bedah Mulut FKG UGM. Yogyakarta.


 

Stashenko, E.E., Puertas, M.A., Martinez, J.R., 2002, SPME Determination of Volatile Aldehydes For Evaluation of In-Vitro Antioxidant Activity, Anal Bioanal Chem, 373(1-2): 70-4


 

Webster J.L., Tonelli. L., Sternberg, E.M., 2002, Neuroendocrine Regulation of Immunity, Annu Rev Immunol; 20: 125-63

LAPORAN BIOLOGI MULUT III


 

PENGARUH EKSTRAK ADAS 50% TERHADAP

PROSES PENYEMBUHAN LUKA


 


 

Diserahkan sebagai bagian dari prasyarat Biologi Mulut III


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Disusun oleh :

Adisty restu Poetri

06/193743/KG/08043


 


 


 

LABORATORIUM BIOLOGI MULUT

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2009