Jumat, 05 Desember 2008

POF, PG, PGCG

Huhuhuhuhu...
Banyak banget bo, laporan yang kudu di selesein,,,
bikin smua aktifitas yang q suka terhenti begitu saja,,,
akakakaakk,,,ga banged deh bahasanya,,,,wakakakaak,,,
Kapan ntu bikin makalah OM I... Bagus deh isinya,,,
Nih, aku bagi2,,,

PYOGENIC GRANULOMA

1. Definisi

Pyogenic granuloma adalah lesi yang tumbuh dari kegagalan penyembuhan normal yang disebabkan oleh pertumbuhan berlebih dari jaringan granulasi (Wray, David et al, 2003). Pyogenic granuloma, yang biasa juga disebut sebagai hemangioma kapiler lobular atau granuloma telangiektatik ini merupakan tumor pada jaringan lunak yang tumbuh dari jaringan ikat fibrosa pada kulit atau membran mukosa (Mcdonald, Ralph E, et al, 2004). Perkembangannya pada rongga mulut hampir di berbagai tempat, tetapi umumnya terjadi di daerah gingival (Greenberg, 2003).

Sebenarnya nama pyogenic granuloma kurang tepat, karena lesi ini tidak berisi pus. Lesi tersebut menggambarkan suatu bentuk hiperplasia radang yang penuh dengan pembuluh darah baru dan jaringan ikat fibrosa yang belum masak. Pertumbuhan yang subur ini merupakan respon berlebihan terhadap iritasi (Langlais dan Miller,1998). Respon berlebihan ini tampak pada reaksi inflamasi di mana terjadi dua kali sampai beberapa kali proliferasi fibrovascular yang berasal dari jaringan ikat (Mcdonald, Ralph E, et al, 2004).

Pyogenic granuloma cenderung berkembang pada pasien-pasien yang mempunyai kebersihan mulut jelek atau iritasi mulut kronis seperti adanya restorasi-restorasi menggantung (overhanging) dan karang gigi.

Distribusi penyakit ini lebih sering diderita oleh wanita. Wanita lebih rawan terhadap keadaan-keadaan tersebut karena aktivitas hormonal. Di sini hormon memang berpengaruh. Adanya pyogenic granuloma dapat berkaitan dengan ketidak-seimbangan hormon yang terjadi selama pubertas, kehamilan atau menopause. Dalam kasus-kasus yang demikian disebut “tumor hormonal atau tumor kehamilan (tumor gravidarum)”.

Meskipun pyogenic granuloma biasanya terjadi tanpa gejala, manipulasi ringan akan menimbulkan perdarahan yang banyak karena epitelnya tipis dan jaringan banyak mengandung pembuluh darah. Matangnya lesi akan menyebabkan bertambahnya fibrosis, berkurangnya vaskularisasi dan berkurangnya intensitas warna.

2. Etiologi

Pyogenic granuloma termasuk lesi vaskular jinak pada kulit dan mukosa yang penyebab pastinya tidak diketahui. Adanya penyakit gingiva dan periodontal serta oral hygiene yang buruk, dianggap sebagai etiologi dari pyogenic granuloma (Karlidag T et al, 2007).

Pengamatan akhir-akhir ini tentang pyogenic granuloma memberitahukan bahwa faktor etiologis utama penyakit tersebut yaitu adanya kondisi traumatik. Karlidag (2007) dan Scully (1994) mengemukakan bahwa pyogenic granuloma berkembang dari trauma pada membran mukosa, kemudian terjadi proses penyembuhan abnormal dengan membentuk jaringan granulasi yang berlebihan.

Wray (2003) menambahkan bahwa adanya benda asing pada soket pencabutan gigi, diantaranya serpihan dari tulang-tulang sequestra yang kecil-kecil, akan diikuti oleh proses penyembuhan abnormal pada jaringan lunak dan membentuk jaringan granulasi dan akhirnya menimbulkan pyogenic granuloma.

Menurut Ting dan Barankin (2006) faktor predisposisi pyogenic granuloma meliputi pengaruh hormonal (seperti yang telah disebutkan sebelumnya), growth factor, infeksi dan anastomosis arteri vena mikroskopis. Kontrasepsi dan perubahan hormon khususnya pada tingkat progesterone, selama kehamilan dapat mengakibatkan vaskularisasi perifer. Terapi retinoid untuk jerawat (terutama isotretinoin) dan psoriasis juga dapat menjadi faktor pendukung terjadinya pyogenic granuloma.

Selain itu, adanya viral onkogen, malformasi arteriovenous mikroskopik, produksi faktor angiogenik dan iritasi kronis diduga juga berperan dalam timbulnya pyogenic granuloma.

3. Tanda Klinis

Pyogenic granuloma konvensional pada umumnya muncul sebagai lesi soliter pada gingiva, bibir, mukosa hidung, tubuh, jari tangan dan jari kaki. Kadang-kadang muncul juga sebagai lesi satelit multipel.

Ciri morfologi permukaan biasanya berupa papul atau nodul berkilau yang mudah berdarah jika terkena trauma ringan. Warna lesi ini merah terang dan berukuran sekitar 6,5 mm. Lesi ini dapat berupa erosi, ulserasi dan krusta. Biasanya berkembang secara cepat dalam waktu beberapa minggu dengan ukuran rata-rata 1 cm. Menurut Ting dan Barankin (2006), papul-papul tersebut memiliki tekstur yang halus dengan epidermis yang utuh. Namun, semakin lama lesi tersebut, maka teksturnya dapat menjadi keras (Mcdonald, Ralph E et al, 2004). Warna papul mulai dari merah terang, merah kehitam-hitaman, ungu, dan coklat kehitaman. Warna lesi ini tergantung pada vaskularisasi lesi dan tingkat statis vena (Rose, Louis F et al, 2000).

Bentuk dasar Pyogenic granuloma ini pedunculated atau sessile. Permukaannya halus, berlobul, kadang muncul kutil dengan erytema dan sering ulseratif. (McDonald, Ralph E et al, 2004). Gejalanya painless, friable, ulserasi, tidak ada pulsasi. Keluhan utama penderita adalah perdarahan yang berulang. Pada keadaan lanjut, jika terjadi perdarahan, dapat menyebabkan permukaan lesi ulserasi di bagian superfisial dan juga dapat menyebabkan krusta. Bila tidak ditangani maka lesi pyogenic granuloma cenderung menetap. Pada pyogenic granuloma yang kecil dan superfisial dapat terjadi regresi spontan.

Dalam jurnalnya, Karlidag T et al (2007), melaporkan bahwa dua pertiga pyogenic granuloma berlokasi di kepala dan daerah leher dengan bagian yang paling sering yaitu pipi (28,8%), rongga mulut (13,5%), scalp (10,8%), dahi (9,9%), kelopak mata dan bibir (9%). Selain itu, Mc Donald (2004) mengemukakan bahwa pyogenic granuloma juga dapat terjadi pada lidah, palatum dan pada mukosa alveolar pada daerah edentulous.

Gingiva merupakan lokasi yang paling sering terjadi pyogenic granuloma pada rongga mulut. Ditambahkan oleh Mc. Donald (2004) bagian gingiva yang sering terkena yaitu pada gingiva labial dari anterior maksila. Perdarahan yang terjadi secara berkala, berkali-kali dan sering sulit disembuhkan menyebabkan suara parau, dispnea, terasa mengganjal di tenggorokan, rasa tercekik dan disfagia. Biasanya terjadi pada penderita pyogenic granuloma yang berlokasi di rongga mulut , terutama pada laring. Pada aspek buccal dari papilla interdental, pyogenic granuloma terutama yang berasal dari maloklusi yang dianggap remeh sehingga mudah terjadi akumulasi plak ( Scolly, Crispian et al, 1994).

Diferensial diagnosis dari pyogenic granuloma pada epiglottis meliputi; hemangioma, angiofibroma, hemangioendotelioma, hemangioperycitoma, angiosarkoma, angioleiomyolipoma, kaposi’s sarcoma, penyakit infeksi granulomatosa, granuloma traumatic, penyakit epitel, pseudokarsinomatosis, hyperplasia, karsinosarkoma, karsinoma, miksoma, histiositoma, kondrosarkoma, verukosa dan karsinoma sel skuamosa.

Pyogenic granuloma dapat terjadi pada segala umur, tetapi paling jarang terjadi dalam umur yang sangat muda dan sangat tua. Pyogenic granuloma paling sering terlihat pada anak-anak umur rata-rata 6-7 tahun, ibu hamil ( "Tumor kehamilan"), remaja dan orang-orang yang mengonsumsi obat Indinavir, Soriatane, Accutane lisan dan kontrasepsi. Lesi ini akan berkurang dengan bertambahnya umur.

4. Hasil Tes (Ro dan Biopsi)

Pemeriksaan Histopatologi :

  • Makro : jaringan kulit ukuran 0,3x0,2x0,2 cm, padat, kenyal
  • Mikro : jaringan dilapisi epidermis, di bawahnya terdapat proliferasi pembuluh-pembuluh darah kecil, bentuk lobulated dengan infiltrat radang limfositik di sekitarnya.

    Gambaran histopatologis Pyogenic granuloma terdapat proliferasi pembuluh darah kecil, yang akan menerobos epidermis dan membentuk tumor globular yang bertangkai, yang dibatasi oleh epidermis yang koleret. Kadang-kadang terdapat erosi dan ulserasi di permukaannya.

    Proliferasi juga terjadi pada fibroblast dan sel endotel dengan formasi menonjol dengan dinding tipis. Terdapat saluran vascularisasi dari endothelium, infiltrasi sel-sel polinuklear. Batas kapilar-kapiler yang tersusun secara lobulus ( Mcdonald, Ralph E et al, 2004).

    Proliferasi pembuluh darah ini terdapat pada stroma gelatinous, yang tidak terdapat kolagen pada stadium awal dan relatif kaya musin. Sel-sel endotel membengkak seperti pada jaringan granulasi yang baru, membatasi pembuluh darah dalam lapisan tunggal dan dikelilingi oleh campuran populasi sel fibroblast, sel mast, sel plasma dan pada permukaan yang erosi terdapat lekosit PMN. Pada lesi yang lebih tua cenderung lebih terorganisasi dan sebagian fibrosis. Hal ini sesuai dengan gambaran histopatologis kasus ini, terdapat proliferasi pembuluh-pembuluh darah yang dilapisi epidermis dengan infiltrasi sel radang limfosit.

    Pemeriksaan Rontgen Foto

  • PERIPHERIAL OSSIFYING FIBROMA (POF)

    1. Definisi

    Peripheral ossifying fibroma adalah suatu lesi yang timbul dari membrana periodontal dan periosteum yang secara histologis terdiri dari serat-serat kolagen dan stroma fibrosa yang mengalami kalsifikasi tulang dan jarang pada daerah edentulous (Farquhar et al, 2008)

    Ada banyak terminology POF, seperti calcifying fibroblastic granuloma, peripherial odontogenic fibroma, peripherial cementifying fibroma, calcifying and ossifying fibroid epulis dan peripherial fibroma dengan kalsifikasi. POF lebih reaktif pada kondisi yang alami, normal daripada yang neoplasma (Prasad et al, 2008).

    2. Etiologi

    Etiologi dan patologi POF masih belum diketahui dengan pasti. Beberapa berangggapan POF merupakan proses neoplastik, ada pula yang berpendapat itu merupakan proses reaktif. Ada juga yang berpendapat bahawa POF merupakan lesi yang muncul dari sel-sel yang terdapat pada ligament periodontal. Trauma atau iritasi local, seperti plak gigi, kalkulus, mikroorganisme, tenaga mastikasi, ill-fitting denture dan kualitas restorasi yang buruk diimplikasikan sebagai etiologi POF (Kumar et al, 2006).

    POF dapat terjadi di segala usia, tapi kebanyakan pada anak-anak dan wanita muda. Kisaran usia adalah antara 5 – 25 tahun. Insiden POF tidak seperti pyogenic ataupun peripherial giant cell granuloma. insidesi meningkat pada decade kedua dan ditandai dengan batas yang jelas pada decade berikutnya. Pada POF tampak adanya hubungan yang kuat antara POF dengan ligament periodontal. Adanya gigi yang hilang secara progresif disertai less ligament periodontal menimbulkan respon iritasi yang cenderung berkembang menjadi POF (Thierbach et al, 2000).

    Adanya faktor hormonal juga memberi kontribusi timbulnya POF, sebab POF lebih banyak mengenai wanita dewasa daripada pria. Meskipun POF adalah tumor jinak, tapi kemungkinan untuk kambuh lagi cukup tinggi, berkisar antara 14, 2% - 16% (Thierbach et al, 2000).

    3. Tanda Klinis

    Gambaran klinik POF yaitu: tumbuh lambat, asimptomatik, massa noduler, warna sama dengan sekitarnya atau kemerahan, konsistensi padat, batas tegas, permukaan rata, tidak selalu terdapat ulserasi, tumbuh pada ligamen periodontal regio interdental papilla gingiva dengan dasar luas bertangkai atau sessile, lesi ini terpisah dari tulang sekitarnya, gigi didekatnya tidak goyang (Junior et al, 2008)

    Meskipun diameter POF dapat mencapai lebih dari 6 cm, biasanya ukurannya kurang dari 1,5 cm. Diagnosis dapat diperoleh dari inspeksi klinik dan biopsi (Moon et al, 2007)

    4. Hasil Tes ( Rontgen dan Biopsi)

    Pemeriksaan Histologis

    Gambaran histopatologis, POF menunjukkan massa jaringan ikat cellular tak berkapsul dan kalsifikasi tulang mature yang terdistribusi secara acak (Moon et al, 2007)

    Pemeriksaan Rontgen Foto

    Gambaran radiologis, umumnya lesi berbentuk bulat, berbatas tegas, tampak gambaran campuran radiopak dan radiolusen yang didominasi unsur osifikasi, polanya dapat berbentuk granuler atau ground glass. Jarang terjadi gambaran superfisial bone erosion dibawah lesi (Farquhar et al, 2008).

    Hasil CT dan MR scan menunjukkan adanya eksofitik massa jaringan lunak overlying yang besar. Tampak adanya kalsifikasi peripheral tanpa disertai perubahan pada tulang yang berbatasan (Moon et al, 2007)

    PERIPHERAL GIANT CELL GRANULOMA

    1. Definisi

    Peripheral giant-cell granuloma adalah suatu pertumbuhan seperti tumor pada gingiva atau alveolar ridge (Greenberg 2003) yang merupakan suatu kondisi pathologis yang nampak di dalam mulut sebagai suatu pertumbuhan jaringan yang cepat karena trauma (Kahn, Michael A., 2001).

    Lesinya terletak di perifer, berasal dari lamina propria dari mukosa oral. Hal tersebutlah yang membedakan dengan central giant cell granuloma yang berkembang di dalam maxilla atau mandibula. Jaringan patologis pada kedua kasus tersebut identik dan melalui spesimen histologis, keduanya dibedakan dengan memperhatikan jaringan sekitarnya, baik tulang maupun mukosanya (Gayford, 1979).

    Jaringan yang abnormal terdiri dari jaringan granulasi yang berisi pembuluh darah yang di dalamnya juga terdapat multinucleated giant-cell. Juga terdapat penampakan histologis yang identik dengan “brown tumours” pada penyakit tulang akibat hyperparatiroid. Brown tumours terjadi sebagai lesi yang mendestruksi secara lokal pada rahang dan secara klinis dan histologis mirip dengan gambaran central giant-cell granuloma. Untuk membedakannya dengan giant-cell granuloma, perlu diadakan pemeriksaaan laboratorium untuk melihat apakah ada produksi yang berlebihan dari hormon paratiroid (Gayford, 1979).

    Karena peripheral giant-cell granuloma selalu mengikuti central giant-cell granuloma, maka pada awalnya dinamai peripheral osteoclastoma atau giant-cell epulis. Peripheral giant-cell granuloma disebut sebagai “reparative” karena lesi endosseous (di dalam tulang) benar-benar terdestruksi dan tidak ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa lesi perifer tersebut membentuk sebuah proses perbaikan (Gayford, 1979).

    2. Etiologi

    Penyebab peripheral giant cell granuloma tidak diketahui. Walaupun demikian, iritasi lokal yang berhubungan dengan plak gigi atau kalkulus, penyakit periodontal, restorasi gigi yang jelek, penyakit yang menyertai dental appliances, atau ekstraksi gigi, telah diyakini berperan dalam perkembangan lesi. Laporan terbaru telah diuraikan bahwa pengembangan dari peripheral giant cell granuloma berasosiasi dengan implant gigi.

    Peripheral giant cell granuloma merupakan salah satu reaksi hiperplasi yang sering terlihat pada membran mukosa mulut yang menunjukkan respon penyembuhan yang baik terhadap iritasi kronis.

    Suatu restorasi gigi atau dental appliances yang buruk berpotensi menyebabkan peripheral giant cell granuloma. Misalnya, pada pembuatan gigi tiruan yang tidak pas, dapat menyebabkan timbulnya hyperplastic umum. Epulis fiussuratum atau gigi tiruan hyperplasia menimbulkan reaksi jaringan di bawah flange atau tepi gigi tiruan. Pada jaringan tampak suatu lipatan merah, lembek, dan beralur sepanjang tepi dari gigi tiruan. Sering tidak ada keluhan pada pasien ketika gigi tiruan digunakan pertama kali (Guinta, 1975).

    Hal ini juga sering ditemukan pada pasien yang menggunakan gigi tiruan anterior rahang atas dan rahang bawah tanpa gigi posterior. Setiap kali pasien menggigit, gigi anterior rahang bawah menyebabkan gigi tiruan rahang atas berpindah ke daerah anterior yang kemudian membentuk jaringan yang hyperplastik. Dengan perluasan tepi yang berlebihan, menyebabkan ulserasi berkembang. Jika gigi tiruan tidak dikoreksi, inflamasi akan berlangsung lama dan berkembang menjadi trauma yang menyebabkan timbulnya jaringan hyperplasia. Pertumbuhan yang terlalu cepat baik pada epitelium maupun jaringan ikat yang biasanya sangat vaskuler menyebabkan timbulnya warna merah pada jaringan tersebut. Untuk mencegah trauma yang berkelanjutan tersebut, diperlukan pembuatan gigi tiruan yang sesuai dengan jaringan di rongga mulut (Guinta, 1975).

    3. Tanda Klinis

    Secara klinis, peripheral giant-cell granuloma mirip dengan pyogenic granuloma, yaitu terdapat massa sessile atau pedunculated, dan terkadang disertai dengan permukaan yang terulserasi. Biasanya berwarna merah tetapi apabila dibandingkan dengan pyogenic granuloma akan berwarna jauh lebih ungu kebiruan dan ukuran lesi peripheral giant-cell granuloma lebih besar daripada pyogenic granuloma.

    Peripheral giant-cell granuloma dapat terjadi pada segala umur, namun paling sering terjadi pada umur muda dan orang tua, tapi cenderung lebih sering terjadi pada usia tua. Wanita lebih sering terkena daripada laki-laki. Dan lesi lebih banyak terjadi di mandibula daripada maxilla. Terjadi erosi pada superficial alveolar bone. Sekitar 10% kasus dilaporkan terjadi kembali, kemungkinan disebabkan karena pembuangan yang kurang bersih.

    Simptomnya berupa lesi yang terlihat sebagai bengkak atau ada perdarahan di mulut karena terdiri dari massa jaringan lunak yang tervaskularisasi tinggi. Lesi tersebut cenderung mudah berdarah dan terdapat eksudate fibrosa tipis (Mitchel DF, Standish SM, Fast TB. 1969).

    Sedangkan sign- nya bercirikan sebuah lesi yang berwujud massa gemuk yang berlobul yang melekat pada gigi yang berdekatan, perdarahan dapat terjadi karena adanya trauma, tetapi tidak sespontan seperti pyogenic granuloma, dapat terlihat ulserasi superficial, lesi berkembang di gingival margin atau mukosa cekat dan jarang terlihat jauh dari gigi, walaupun dapat terlihat di edentulous alveolar ridge. Lesi yang besar dapat menyebabkan gigi yang berdekatan saling terpisah.

    Peripheral giant cell granuloma memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, bahkan sering kali bisa mencapai ukuran 1 cm dalam waktu 1 bulan Lesi pada umumnya asimptomatik. Pemeriksaaan klinis menunjukkan permukaan halus, serta papule atau nodulnya berbentuk kubah. Diameter lesi biasanya <> walaupun jarang, peripheral giant cell granuloma dapat tumbuh paling besar dalam ukuran 5 cm. Tanda klinis yang lain yaitu lesi selalu terletak di alveolar mukosa atau gingiva dan 70% ditemukan pada segmen anterior dari rahang seperti di daerah premolar, kaninus, dan insisivus.

    4. Hasil Tes ( Ro dan Biopsi)

    Pemeriksaan Histopatologi

    Lesi ditutupi oleh epitelium pipih berlapis yang terkeratinisasi secara buruk atau parakeratinisasi, yang di bawahnya terdapat zona sempit dari jaringan fibrous. Lesi terdiri atas sebuah massa jaringan granulasi yang terisi pembuluh darah dengan adanya giant-cell yang tersebar tidak merata. Giant-cell itu sendiri memiliki 5-20 nuklei yang memiliki vakuola. Juga terlihat adanya area osteoid (matrix tulang) atau woven bone. Secara histokimia, giant-cell mirip dengan osteoclas. Perbedaanya terletak pada giant-cell yang memiliki lebih sedikit non-spesifik esterase. Dasar dari lesi terletak di lamina propria (Gayford, 1979). Selain itu, terdapat sel mesenkim yang berbenutuk spindel atau oval. Di dekat perbatasan dari luka, deposit hemosiderin dan hemorrhage sering ditemukan (Kahn, 2001).

    Pemeriksaan Rontgen Foto

    Gambaran x-rays sering menunjukkan tidak adanya abnormalitas, tetapi menunjukkan adanya irregular bone loss di daerah interseptal dari alveolar crest. (Gayford, 1979). Radiography menunjukkan bukti adanya resorbsi dari tulang dibawahnya. Ketika terjadi pada daerah tanpa gigi (edentulous), tulang alveolar akan menunjukkan karakteristik “cuffing” (Mitchel DF, Standish SM, Fast TB. 1969)

    Daftar Pustaka

    Coulthard, Paul., Horner, Keith., Sluan, Plilip., Theaker, Elizabeth D.2003. Oral and Maxillofacial Surgery, Radiology, Pathology and Oral Medicine. Churchill Livingstone. Elsevier Science Limited.p: 178

    Farquhar, T., MacLellan, J., Dyment, H., Anderson, RD.,2008, Peripheral Ossifying Fibroma : A Case Report, JCDA, vol. 74 (9): 809-12

    Guinta, Yohanes, D.M.D., Oral Ilmu penyakit, Modul 3, 1975.

    Gayford JJ, Raskel R. 1979. Clinical Oral Medicine. John Wright and Sons Ltd. Bristol

    granuloma piogenik, 12 june 2006, Faeida Tabri FK UNHAS

    granuloma, Annulare dan Pyogenic. 18 Sept 2008. Richard Lichenstein

    Greenberg MS, Glick M. 2003. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment. 10th edition. Decker Inc. Ontario

    http://www.aocd.org/skin/dermatologic_diseases/pyogenic_granuloma.html

    http://www.doctorspiller.com/images/OralAnatomy/Pyogenic_granuloma

    http://www.emedicine.com/derm/fulltopic/topic685.htm#section~Introduction. Carl Allen,DDS. Peripheral Giant Cell Granuloma. Article Last Updated: Sep 15, 2006

    http://www.emedicine.com/emerg/TOPIC7153.htm

    http://www.lmp.ualberta.ca/resources/pathoimages/Images-P/000p010r.jpg

    http://www.maxillofacialcenter.com/BondBook/softtissue/pgcg.html#Top

    http://www.nature.com/bdj/journal/v187/n9/thumbs/4800308-f5.jpg

    http://www.siumed.edu/~dking2/intro/skinbiop/images/GT1.jpg

    http://www.usc.edu/hsc/dental/PTHL312abc/312b/15/Qs/04bb.jpg

    http://www.visualdxhealth.com/adult/pyogenicGranuloma.htm

    http://www.visualdxhealth.com/child/pyogenicGranuloma_treatments.htm

    Junior, JCM., Keim, FS., Kreibich, MS., 2008, Peripheral Ossifying Fibroma of the Maxilla : Case Report, Intl. Arch. Otorhinolaryngol, vol. 12(2): 295-99

    Kahn, Michael A. Basic Oral and Maxillofacial Pathology. Volume 1. 2001

    Mitchel DF, Standish SM, Fast TB. 1969. Oral Diagnosis / Oral Medicine. Lea & Febiger. Philadelphia.

    Karlidag, T., Yalcin, S., Akpolaat, N., Yildiz, M. Pyogenic granuloma of the epiglottis: a case report. Turk Arch Otolaryngol, 2007; 45(1): 41-44

    Kumar, S.K.S., Ram, S., Jorgensen, M.G., huler, C.F., Sedghizadeh, P.P., 2006, Multicentric Peripheral Ossifying Fibroma, Journal of Oral Science, Vol 48 (4): 239-243

    Langlais,Robert.P and Miller,Craig.S.,1998. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang Lazim. Jakarta: Hipokrates

    Mcdonald, Ralph E., Avery, David R., Dean, Jeffrey A. 2004. Dentistry For the Child and Adolescent, 8th edition, St Louis. Mosby. p:151

    Multiple Gian Disseminated Pyogenic Granuloma in Burn lesion. Melumet Bozkuri, Yalcin Kilahci, Fatih Zor, Brahim Aska. Journal of Burn Care and Researh. Vol 27(2) : 247-249

    Moon, W.J., Choi, S.Y., Chun, E.C., Kwon, K.H., Chae, S.W., 2007, Peripheral Ossifying Fibroma In The Oral Cavity: CT And MR Findings, Dentomaxillofacial Radiology, Vol. 36: 180-182

    Prasad, S., Reddy, S.B., Patil, S.R., Kaburgi, N.B., Puranik, R.S., 2008, Peripherial Ossifying Fibroma and Ptogenic Granuloma Are They Interrelatted?, New Yoerk State Dental Journal, ProQuest Medical Library: pg. 50

    “Pyogenic Granuloma” (Online). http://www.aocd.org/skin/dermatologic_diseases/pyogenic_granuloma.html

    Rose, Louis F., Genco, Robert J., Cohen, D Walter., Mealey, Brian L. 2000. Peridontal Medicine. Hamilton. B.C Decker Inc. p: 261

    Scully, Crispian., Welbury, Ricard. 1994. Color Atlas of Oral Diseases in Children and adolescents. London. Wolfe Publishing. p: 75

    Thierbach, V., Quarcoo, S., Orlian, A.I., 2000, Atypical Peripherial Ossifying Fibroma, New York Dental Journal, ProQuest Medical Library: pg. 26

    Ting, Patricia.T., Barankin, Benjamin., Dermacase. Canadian Family Physician. Le Médecin de famille canadien. Vol.52: Januari. Janvier 2006.

    Wray, David., Stenhouse, David., Lee, David., Clark, Andrew J.E. 2003. Textbook of General and Oral Surgery. Churchill Livingstone. Elsevier Science Limited. p:26


Hahahahaha...
Udah brapa kali yah aku posting laporan,,,hasil kerja kuliahku,,,tapi ga pernah bisa berkembang,,,tidak mampu menampilkan dengan baik,,
hehehehe,,gomen yah,,,tapi smoga bisa membantu,,,