Suasana rumah sakit bercampur dengan bau obat yang sangat menyengat. Uh... aku sungguh benci bau seperti itu. Ingin aku beranjak pergi dari tempat yang memuakkan ini. Tapi, saat ku lihat sosok seorang wanita yang begitu pucat dan tanpa daya terbaring di atas ranjang di depanku, hatiku terasa begitu pilu, “Bunda...” kusebut namanya dengan lirih. Aku pun terlelap dalam kenangan lama.
* * * *
Hore!!! Akhirnya besok aku bisa pergi ke mal sama teman-teman...Yes...Kan lusa aku ulang tahun. Aku mau kasih tau Melisa, dulu ah...
“Halo... Bisa bicara dengan Melisa?”
“Apa Yul? Ada something?”
“Yup.. Besok aku jadi ikut kalian ke mal, ya...”
“Lho...memang kamu boleh pergi sama ibumu? Bukannya ibumu melarang kamu untuk pergi dengan tegas?”
“Aah... Sebodo amat. Kan kita selama seminggu ini nggak ada ulangan. Refreshing, dong. Bunda benar-benar egois. Aku kan bukan robot. Memangnya aku harus belajar terus-terusan? Uh...Bunda sudah berubah total sejak ayahku meninggal dunia saat dinas di Jakarta. Aku kangen sama ayahku yang selalu mampu membuat segalanya menjadi lebih baik.”
“Yah...mungkin ibumu berbuat seperti itu karena kesepian.”
“Udah deh. Ga usah dibahas lagi. Yang terpenting besok aku jadi pergi ke mal sama kalian. Daah...” Setelah menelepon Melisa aku segera menuju kamarku untuk menghitung jumlah tabunganku. Supaya besok aku bisa mendata barang yang akan kubeli. 50.000...55.000...75.000...100.000...Wah...tabunagnku sudah Rp.100.000,00. Itu berarti besok aku isa beli macam-macam,dong. Tapi... yang aku pakai buat besok Rp50.000,00 aja ah. Sisanya aku tabung. Aku tersenyum senang dan puas atas jerih payahku dalam menabung selama beberapa bulan. Ini berarti aku bisa beli kado buat diriku sendiri, dong.
“Yuli...kamu sedang apa?” tanya Bunda hingga membuatku kaget.
“Cuma sedang menghitung tabungan Yuli kok, Bunda.” Kataku lirih. “Bunda sendiri ada keperluan apa? Kok tumben ke kamar Yuli?
“Ga ada keperluan apa-apa. Hanya ingin ngobrol sama kamu.”
“Ooo...” aku hanya menjawab dengan lirih. “Mmm...Bunda besok Yuli boleh pergi ke mal sama teman-teman,ya?”
“Memangnya kamu mau apa?”
“Ya...jalan-jalan.”
“Tapi besok Bunda ada acara. Kalau kamu pergi siapa yang di rumah? Mana mungkin rumah dibiarkan kosong beitu saja.”
“Ah...Bunda selalu begitu. Yuli nggak boleh pergi sama teman-teman. Bunda egois...Bunda nggak sayang lagi sama Yuli..” Bunda terlihat begitu sedih saat aku mengatakan hal itu. Sebenarnya aku nggak bermaksud mengatakan Bunda egois. Tapi..aku benar-benar sebal karena tidak boleh pergi sama teman-teman. Lagipula nanti kalau aku ulang tahun tidak ada yang ingat. Bunda juga pasti sudah lupa karena terlalu banyak acara.”Yuli mau tidur. Yuli capek.” kataku ketus saat Bunda mencoba mengajakkku bicara. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu. Saat ayah masih ada, semua tampak bahagia. Setiap akhir bulan, kita pergi berlibur. Ayah selalu memberikan kejutan-kejutan buat aku dan Bunda saat kami ulang tahun. Bunda juga sering di rumah walaupun pekerjaan menumpuk. Bunda selalu menemani aku ngobrol setiap malam. Sekarang...Bunda tidak lagi memperhatikan aku. Aku kesepian...Aku kangen sama ayah...Mengingat semua itu, membuat air mataku turun membasahi pipiku.
* * * *
“Yuli..kamu jadi ikut ke mal?” tanya Melisa saat pulang sekolah.
“Of course, gitu loh... Cabut sekarang aja, yuk..”
“Ibumu udah ngasih ijin ke kamu?”
“Ah...kamu kayak nggak tau Bunda aja. Udah yuk...cabut...Anak-anak dah nunggu di depan gerbang, tuh..”kataku seraya menunjuk pintu gerbang sekolah. Kami lalu pergi ke mal dengan menggunakan mobil milik Melisa. Selama diperjalanan dan di mal, aku tidak bisa menikmati segala hal yang sebelumnya sudah aku impikan. Aku sangat sedih saat mengingat wajah Bunda yang begitu terkejut juga terlihat ingin menangis. Aku merasa sangat bersalah pada Bunda. Bukankah selama ini Bunda juga selalu berusaha meluangkan waktu untukku. Kenapa hanya karena Bunda beberapa bulan ini terlihat sangat sibuk dan jarang di rumah aku sudah menyimpulkan kalau Bunda tidak lagi sayang padaku? Aku lalu membeli sebuah pigura yang cantik. Ini untuk Bunda. Akan kupasang fotoku dan Bunda agar semua jadi lebih baik.
“Makasih ya, dah ngajak aku ke mal...” Kataku saat Melisa mengantarku pulang. Rasanya benar-benar lega saat sudah sampai di rumah. Aku ingin segera bertemu Bunda dan meminta maaf atas segala kesalahanku. Aku mencoba membuka pintu rumah, tetapi tidak bisa karena dikunci. Mungkin Bunda belum pulang. Aku lalu pergi ke rumah Bu Agus. Biasanya Bunda menitipkan kunci ke sana.
“Permisi.. Bu Agus ada?”
“Oh, mbak Yuli...Bu Agus lagi pergi ke rumah sakit. Memangnya mbak Yuli tidak bertemu ibu di sana?” tanya mbak Yah pembantunya Bu Agus.
“Saya kan tidak ke rumah sakit.” dadaku tiba-tiba terasa begitu sakit. Ada sesuatu yang tidak mengenakkan mengganjal hatiku.
“Lho...ibu tadi ke rumah sakit nganter Bu Ranti, ibunya mbak Yuli.” Aku benar-benar terkejut mendengar penuturan dari mbak Yah.
“Sekarang Bunda di rumah sakit mana, mbak?”
“Di RS. Mangun Sucipto.” Setelah mengucapkan terima kasih aku segera pergi ke RS. Mangun Sucipto. Selama perjalanan menuju rumah sakit, aku hanya bisa berdoa semoga Bunda tidak apa-apa. Setibanya di rumah sakit aku segera menuju resepsionis dan bertanya tentang Bunda. Setelah suster yang berjaga memberitahuku di mana kamar Bunda dirawat, aku langsung bergegas menuju kamar Bunda. Tampak Bu Agus sedang duduk menemani Bunda. Aku menangis saat melihat sosok Bunda yang tampak rapuh terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangannya. Aku duduk di dekat Bunda dan mencium tangannya seraya mendengar penuturan Bu Agus, “Tadi saat Bu Ranti pergi ke toko Aneka Rasa untuk membeli kue, tiba-tiba saja ada motor dengan kecepatan tinggi menyerempet Bu Ranti. Bu Ranti terjatuh dan kepalanya terbentur batu.” Bu Agus lalu memberikan bungkusan kue yang dibeli Bunda padaku dan sebuah plastik mungil. “Bu Ranti tadi cerita, kalau besok Yuli ulang tahun dan ingin membuat kejutan untuk Yuli. Lalu plastik mungil tiu adalah hadiah ulang tahun untuk Yuli. Selama ini Bu Ranti benar-benar kesepian karena harus bekerja keras agar dapat membuat Yuli bahagia, Bu Ranti jadi jarang berbincang-bincang dengan Yuli. Bu Ranti juga cerita pada saya, katanya setelah Yuli ulang tahun, dia akan mengurangi pekerjaannya. Karena Yuli pasti juga merasa kesepian.” Tangisku pecah saat mendengar penuturan dari Bu Ranti. Bunda yang selama ini benar-benar merasa kesepian. Melisa benar, Bunda sering melarangku pergi karena Bunda kesepian. Ku buka kado dari Bunda. Aku terkejut, ternyata Bunda membelikanku sebuah Hp. Ada sebuah kartu ucapan dengan tulisan khas Bunda.
Yts. Yuli Putriku
Selamat Ulang Tahun sayang... Maaf selama ini Bunda jarang menemanimu. Ini Bunda belikan sebuah Hp. Memang bukan Hp yang sedang terlalu digemari saat ini. Tetapi setidaknya dengan ini kita bisa saling bercerita. Jadi, saat Bunda sedang sibuk dan Bunda kangen sama Yuli, Bunda bisa menelepon Yuli dan kita akan berbincang-bincang seperti biasanya. Jadi, kamu tidak akan merasa kesepian lagi
Yang selalu menyayangimu
Bunda
Aku merasa sangat bersalah pada bunda karena telah mengira bahwa Bunda sudah melupakan ulang tahunku. Aku ingin Bunda segera siuman. Karena ada kata-kata yang ingin kusampaikan pada Bunda, “Maafkan aku, Bunda... Maafkan putrimu yang durhaka. Yuli selalu sayang Bunda. Maafkan aku, Bunda...” Seraya mencium telapak tangan Bunda yang selalu membelaiku dan membuatku merasa damai serta menenangkanku di saat aku merasa galau ataupun bimbang dengan lembut dan penuh kasih sayang .
* * * * *
