Selasa, 07 April 2009

INTISARI


 

Pengaruh Aloe Vera Terhadap Sel Mononuklear

Pada Reaksi Hipersensitivitas Kontak


 

Oleh :

ADISTY RESTU POETRI

06/193743/KG/08043

Sistem imun merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh guna mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup. Hipersensitivitas tipe lambat merupakan manifestasi imunitas seluler.

Lidah buaya (aloe
vera) adalah salah satu dari sekian banyak flora tumbuhan di bumi Indonesia. Praktikum dilaksanakan dengan tujuan supaya mahasiswa mampu mengamati perubahan sel mononuklear pada reaksi hipersensitivitas kontak.

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah sel mononuklear (berinti satu, inti terletak di tengah berwarna merah keunguan, serta dikelilingi sitoplasma tipis) pada masing-masing preparat dengan 5 lapang pandang. Kemudian dilakukan analisis hasil data jumlah sel mononuklear sesuai data yang telah diperoleh.

Setelah dilakukan praktikum diperoleh suatu hasil bahwa konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap peningkatan jumlah sel mononuklear.


 

Kata kunci: Hipersensitivitas tipe lambat, aloe vera, sistem imun, sel mononuklear


 

 

PENDAHULUAN

Sistem imun merupakan semua mekanisme yang digunakan tubuh guna mempertahankan keutuhannya terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup (Baratawidjaja, 2002). Reaksi imun terhadap gabungan-gabungan molekul dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. Sebagai contoh adalah obat, dapat menimbulkan penyakit pada kulit, hati ginjal dan paru-paru (Werner and Pitchler,2003).

Bila seseorang telah mendapat suntikan atau telah kebal, kontak dengan antigen yang selanjutnya tidak hanya dapat merangsang timbulnya peningkatan reaksi kekebalan tetapi dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas (Roitt, 1985). Reaksi hipersensitivitas merupakan reaksi imunologik yang merusak jaringan (Lawler, dkk, 1992). Menurut Lennei (1995), ada empat tipe reaksi hipersensitivitas.

  1. Tipe I atau Hipersensitivitas Anafilaktik

    Antigen menyebabkan degranulasi sel mastosit yang berikatan dengan IgE dan mengeluarkan histamine dan bahan vasoaktif lainnya.

  2. Tipe II atau Hipersensitivitas Bergantung Kepada Antibodi

    Menurut Roitt (1985), pengikatan antibodi terhadap antigen di permukaan sel menyebabkan (i) fagositosis sel dengan cara perlekatan opsonik atau perlekatan imun, (ii) sitotoksisitas ekstraseluler yang tidak fagositik oleh sel-sel pembunuh dan yang mempunyai reseptor-reseptor untuk IgFc, (iii) lisis melalui sistem komplemen lengkap sampai C8.

  3. Tipe III atau Hipersensitivitas Imun Kompleks

    Adanya antigen plak dan antibodi menunjukkan bahwa kompleks imun (IC) mungkin terbentuk. Aktivasi komplemen dapat menyebabkan resorpsi tulang. Baik jalur klasik maupun alternatif juga terlibat.

  4. Tipe IV atau Hipersensitivitas Selular

    Pengaktifan imunitas selular oleh antigen plak yang merangsang proliferasi sel-T dan sel-B menyebabkan perluasan sel-sel yang terlibat dalam reaksi hipersensitivitas lambat. Menurut Roitt (1985), hipersensitivitas tipe lambat ini ditemukan pada berbagai reaksi alergi terhadap bakteri, virus, dan jamur. Biasanya pada dermatitis kontak karena kepekaan terhadap zat-zat kimia sederhana tertentu dan pada penolakan transplantasi jaringan.

Menurut Sherwood (2001), respon alergi diklsasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu hipersensitiyitas tipe cepat (Immediate hypersensitivity) dan hipersensitivitas tipe lambat (delayed hypersensitivity). Pada hipersensitivitas tipe cepat, respon muncul sekitar dua puluh menit setelah terkena alergen, sedangkan hipersensitivitas tipe lambat biasanya muncul satu hari atau lebih setelah terpapar. Adanya perbedaan waktu disebabkan perbedaan mediator yang terlibat. Jika reaksi hipersensitivitas tipe cepat melibatkan sel B, reaksi hipersensitivitas tipe lambat melibatkan sel T.

Bellanti (1993) memaparkan bahwa hipersensitivitas tipe lambat merupakan manifestasi imunitas seluler. Diakibatkan kenaikan reaktivitas terhadap antigen spesifik yang ditengahi oleh sel T.

Lidah buaya (aloe
vera) adalah salah satu dari sekian banyak flora tumbuhan di bumi Indonesia. Kandungan kimia yang ada antara lain lemak tak jenuh, chrysophanol, asam amino, tannin, polisakarida. Efek biologi secara lokal ekstrak daun lidah buaya dapat sebagai anestetika, pembunuh mikroba, penyembuh luka pada kulit, dan di dunia industri digunakan bahan pembuat shampo (Ismiyati, dkk, 2007). Daun lidah buaya memiliki 2 cairan utama, yaitu eksudat yang kekuningan berasal dari sel perisiklik, unsur utama adalah antrakuinon yang disungak sebagai obat pencahar dan gel yang jernih di dalam daun terdiri dari sel parenkim, memiliki banyak fungsi baik fisiologi, farmakologi dan efek klinik (Eberendu etc, 2005).

Pemaparan aloe
vera yang berlebihan atau adanya penurunan reaksi imunologi seluler pada kondisi tertentu, mengakibatkan zat yang terkandung di dalamnya dapat berubah menjadi alergen. Reaksi hipersensitivitas yang tertunda menyebabkan eritema dan indurasi yang tampak beberapa jam dan mencapai keadaan maksimal setelah 24-48 jam (Barber, 1977).

Praktikum dilaksanakan dengan tujuan supaya mahasiswa mampu mengamati perubahan sel mononuklear pada reaksi hipersensitivitas kontak.

BAHAN DAN CARA

Peralatan yang digunakan saat praktikum adalah sebuah mikroskop cahaya dan 4 preparat, yaitu kontrol, aloe vera 25%, aloe vera 50%, dan aloe vera 100%.

Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah sel mononuklear (berinti satu, inti terletak di tengah berwarna merah keunguan, serta dikelilingi sitoplasma tipis) pada masing-masing preparat dengan 5 lapang pandang. Kemudian dilakukan analisis hasil data jumlah sel mononuklear sesuai data yang telah diperoleh.

HASIL PENGAMATAN


 


 

Gambar 1 - Sel mononuklear pada preparat control terletak di sekitar pembuluh darah.


 

Tabel 1 – Jumlah dan rata-rata sel mononuklear yang tampak pada setiap preparat.

Preparat 

Jumlah 

Rata-rata 

Kontrol 

25 

1,6 

Aloe vera 25%

71 

4,73 

Aloe vera 50%

79 

5,26 

Aloe vera 100%

109 

7,2 

PEMBAHASAN

Dermatitis kontak alergi adalah inflamasi kulit yang termasuk dalam hipersensitivitas tipe lambat, disebabkan adanya kontak benda asing dengan kulit dan merupakan penyebab penting penyakit kulit. Diagnosis dari dermatitis kontak alergi tergantung pada riwayat medis, distribusi lesi, dan patch testing (Chapel, 1988). Menurut Trihapsoro (2003), dermatitis kontak alegri tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi, tetapi lebih jarang dijumpai pada anak-anak. Selain itu, prevalensi pada wanita dua kali lipat dibanding laki-laki.

Mekanisme timbulnya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi mengikuti respons imun pada reaksi hipersensitivitas tipe lambat (Djuanda, 2005). Hipersensitivitas lambat adalah satu-satunya reaksi imunologik yang dibangkitkan oleh sensitisasi. Hipersensitivitas tipe lambat tidak dapat dipindahkan dari orang yang peka ke orang yang tidak peka melalui antibodi serum. Sel T bersifat antigen sensitif memperlihatkan kekhususan antigen dalam reaksinya terhadap carrier. Sel T mempunyai reseptor-reseptor permukaan yang mengenal antigen (Roitt, 1985).

Dalam fase sensitisasi, hapten yang kontak dengan kulit diikat oleh auto-protein, dan dimakan sel Langerhans, diproses dan dipresentasikan ke sel T yang kemudian berproliferasi membentuk lon Th1 yang spesifik untuk kompleks hapten-protein. Sehingga bila terjadi kontak ulang dengan hapten, peptide asal autoprotein dipresentasikan lagi oleh sel Langerhans. Sel T memori akan memberi respons terhadap antigen tersebut dengan melepas sitokin (IFN-γ) yang menarik Th1 dan monosit ke tempat kontak serta meningkatkan ekspresi molekul adhesi pada sel endotel dan menimbulkan inflamasi (Baratawidjaja, 2002). Oleh karena itu, dermatitis kontak alergi dapat terjadi pada orang-orang yang menjadi peka akibat pekerjaan yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia (Roitt, 1985).

Dalam praktikum kali ini yang berperan sebagai antigen adalah aloe vera. Pada daun aloe vera, terkandung di dalamnya antrakuinon, suatu zat yang memiliki potensi menimbulkan iritasi dan alergi (Ferreira et al, 2007). Oleh karena itu jika terlalu sering berkontak dengan aloe vera dapat terjadi dermatitis kontak alergi. Walaupun begitu, secara umum efek samping yang ditimbulkan akibat kontak yang terus menerus dengan aloe vera masih dapat diterima (Vogler and Ernst, 1999). Hasil pengamatan menunjukkan semakin tinggi konsentrasi aloe vera yang digunakan maka sel mononuklear yang tampak juga semakin banyak. Dapat dikatakan bahwa konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap perubahan jumlah sel mononuklear.

KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dapat diperoleh kesimpulan, yaitu:

  1. Rata-rata sel mononuklear yang tampak pada setiap preparat:
    1. Kontrol        :     1,6
    2. Aloe vera 26%        : 4, 73
    3. Aloe vera 50%        : 5, 26
    4. Aloe vera 100%    : 7,2
  2. Semakin tinggi konsentrasi aloe vera yang diberikan maka jumlah sel mononuklear semakin meningkat.
  3. Konsentrasi aloe vera berbanding lurus terhadap perubahan jumlah sel mononuklear yang muncul.

DAFTAR PUSTAKA

Baratawidjaja, K.G. 2002. Imunologi Dasar. edisi 5. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Barber, H.R.K. 1977. Immunolgy for The Clinican. A Wiley MedicalPublications: New York.

Bellanti. J.A. 1993. Imunologi III. Gajah Mada University Press: Yogyakarta

Chapel, H., Haeney, M., 1988, Essentials of Clinical Immunology, 2nd edition, Blackwell Scientific Publications, England; 256-259.

Djuanda, A. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. edisi 3. Balai Penerbit FKUI: Jakarta

Eberendu, A.R., Luta, G., Edwards. J.A., McAnalley, B.H., Davis, B., Henry, S., Ray, R.C., 2005, Quantitative Colorimetric Analysis of Aloe Polysaccarides as a Measure of Aloe Vera Quality In Commercial Products, Journal of AOAC International

Ferreira, M., Teixeira, M., Silva, E., Selones, M., 2007, Allergic Contact Dermatitis to Aloe Vera, Contact Dermatitis, Vol. 57: 278-279

Ismiyati, T., Dipoyono, H.M., Indrastuti, M., 2007, Kemampuan Cetak Ekstrak Daun Lidah Buaya Sebagai Bahan Cetak Pada Pembuatan Gigi Tiruan, Majalah Kedokteran Gigi, Vol. 14 (2): 88

Lawler, W., Ahmed, A., Hume, W.J., 199222, Buku Pintar Patologi Untuk Kedokteran Gigi. EGC: Jakarta

Lenner, T. 1995. Imunologi pada Penyakit Mulut. EGC: Jakarta

Roitt, I.M. 1985. Pokok-Pokok Ilmu Kedokteran. Gramedia: Jakarta

Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia . RGC: Jakarta

Trihapsoro, I. 2003. Dermatitis Kontak Alergi pada Pasien Rawat Jalan di RSUP Haji Adam Malik Medan. USU Digital Library

Vogler, B.K., Ernst, E., 1999, Aloe Vera: A Systematic Review of Its Clinical Effectiveness, British Journal of General Practice, Vol. 49: 823-828

Werner, J., Pichler, M.d., 2003, Delayed drug Hipersensitivity Reactions, Annals of Internal Medicine, Vol. 139 (8): 683-693


  

   

 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

0 komentar: